Di tengah konflik antara Iran dan Israel-Amerika Serikat, terdapat komoditas yang lebih krusial dari minyak dan gas, yaitu air. Kekhawatiran akan kelangkaan air bersih kini menghantui masyarakat Timur Tengah.
Menurut seorang warga Uni Emirat Arab bernama Sofia, minyak dan gas penting bagi perekonomian, namun air adalah dasar kelangsungan hidup. Kebutuhan akan air bersih menjadi sangat penting bagi negara-negara di wilayah Teluk, yang mengandalkan sistem desalinasi untuk mengubah air laut menjadi air minum.
Seiring meningkatnya ketegangan dengan Iran, kekhawatiran akan ancaman terhadap sumber air bersih semakin meningkat. Seorang warga anonim mengungkapkan ketakutannya akan kekurangan air minum, sumber daya yang paling berharga.
Pemerintah Bahrain melaporkan bahwa drone Iran merusak infrastruktur desalinasi, meskipun suplai air tidak terpengaruh. Insiden ini terjadi setelah Iran menuduh AS menyerang pabrik desalinasi di Pulau Qeshm, yang berdampak pada 30 desa. Tuduhan itu dibantah oleh AS.
Ratusan pabrik desalinasi di Teluk memasok air minum bagi sekitar 100 juta orang. Negara-negara Teluk seperti Kuwait, Oman, dan Bahrain sangat bergantung pada desalinasi karena memiliki sumber daya air tawar alami yang terbatas.
Proses desalinasi mengubah air laut menjadi air minum dengan menghilangkan garam, mineral, dan kotoran melalui pemanasan atau tekanan tinggi. Proses ini mahal dan membutuhkan banyak energi.
Michael Christopher Low dari University of Utah menyebut negara-negara Teluk sebagai 'kerajaan air asin' karena ketergantungan mereka pada produksi air buatan dari laut. Untuk Kuwait dan Oman, ketergantungan pada desalinasi mencapai sekitar 90%, Bahrain 85%, dan Arab Saudi sekitar 70%. Kota-kota besar seperti Abu Dhabi, Dubai, Doha, Kota Kuwait, dan Jeddah hampir sepenuhnya bergantung pada air desalinasi.
Menurut Nader Habibi, profesor ekonomi Timur Tengah di Brandeis University, keamanan pabrik desalinasi sangat penting bagi perekonomian dan kelangsungan hidup penduduk di wilayah tersebut. Serangan terhadap infrastruktur sipil yang vital melanggar hukum internasional dan dapat dianggap sebagai eskalasi provokatif.
Preseden dan Pelanggaran Norma
David Michel dari CSIS menyoroti preseden serangan terhadap infrastruktur air. Selama Perang Teluk 1991, Irak mencemari Teluk Persia dengan minyak, mengganggu pabrik desalinasi di Kuwait. Rusia juga telah menyerang infrastruktur air Ukraina, dan Israel menghancurkan fasilitas air di Gaza.
Oleh karena itu, kekhawatiran Sofia tentang pasokan air minum di wilayahnya sangat beralasan.