Perusahaan teknologi pertahanan asal Amerika Serikat, Anduril, tengah mengembangkan headset augmented reality (AR) yang diklaim andal untuk kebutuhan medan perang. Seperti dikutip dari Detik iNET, teknologi militer ini disebut-sebut bisa membuat negara-negara rival Amerika Serikat, mulai dari Iran hingga China, merasa khawatir.
Prototipe perangkat canggih tersebut dikembangkan melalui kolaborasi dengan Meta Platforms, perusahaan milik Mark Zuckerberg. Perangkat ini memiliki berbagai kelebihan, salah satunya kemampuan untuk memerintahkan serangan drone hanya lewat pelacakan mata dan perintah suara.
Upaya ini dipimpin oleh Wakil Presiden Anduril, Quay Barnett, yang merupakan mantan personel Komando Operasi Khusus Angkatan Darat Amerika Serikat. Barnett menjelaskan bahwa tujuan fundamental dari sistem persenjataan ini adalah mengoptimalkan visi manusia sebagai sistem senjata, sebuah konsep yang terinspirasi dari cyborg.
Melansir MIT Technology Review, Barnett menginginkan integrasi penuh antara drone dan prajurit dalam operasi militer. Melalui sistem ini, mereka dapat berbagi informasi tanpa hambatan dan mengambil keputusan bersama sebagai satu kesatuan.
Saat ini, Anduril sedang mengerjakan dua proyek serupa. Proyek pertama adalah Soldier Born Mission Command (SBMC) milik Angkatan Darat, di mana Anduril telah memenangkan kontrak prototipe senilai USD 159 juta pada tahun 2025 untuk bekerja sama dengan Meta.
Di samping proyek tersebut, Anduril juga memulai proyek mandiri yang didanai sendiri bernama EagleEye. Proyek sampingan ini telah diumumkan kepada publik pada Oktober 2025.
Meskipun EagleEye merupakan sistem yang belum diminta oleh militer Amerika Serikat, Anduril meyakini pihak militer akan lebih menyukainya. Kendati demikian, kedua sistem persenjataan tersebut masih membutuhkan waktu pengembangan bertahun-tahun dan diperkirakan baru siap pada 2028.
Persaingan Teknologi Headset Pintar Militer
Anduril tidak sendirian dalam persaingan pengembangan headset pintar untuk kebutuhan perang. Rivet, sebuah perusahaan yang mengkhususkan diri pada sensor tersemat untuk militer, juga telah menerima kontrak prototipe senilai USD 195 juta dalam periode yang sama.
Perkembangan ini berlanjut hingga Maret 2026, ketika perusahaan teknologi pertahanan asal Israel, Elbit, turut menerima kontrak senilai USD 120 juta. Persaingan baru ini merebak setelah Microsoft kehilangan peran utamanya dalam memimpin proyek headset pintar untuk Angkatan Darat Amerika Serikat.
Kegagalan Microsoft dipicu oleh audit Pentagon yang menemukan bahwa Angkatan Darat Amerika Serikat tidak menguji kacamata pintar tersebut dengan benar. Kelalaian dalam proses pengujian tersebut dinilai berpotensi menyebabkan pemborosan anggaran hingga USD 22 miIiar.
Uji Coba Penglihatan Malam Digital
Pada kedua prototipe besutan Anduril, perusahaan kini sedang menguji sistem penglihatan malam digital baru. Sistem tersebut memanfaatkan sensor elektronik dan algoritma khusus untuk meningkatkan kualitas visual dalam kondisi cahaya rendah.
Untuk proyek Angkatan Darat Amerika Serikat, rangkaian headset pintar, penglihatan malam, dan sensor akan dipasang pada helm serta perlengkapan standar tentara dengan paket baterai terpisah. Sebaliknya, versi EagleEye akan mengintegrasikan seluruh teknologi tersebut langsung ke dalam struktur helm itu sendiri.
Kolaborasi militer Amerika Serikat dengan raksasa teknologi pertahanan ini mempertegas keseriusan negara tersebut dalam menghadapi potensi konflik. Langkah ini menjadi krusial mengingat ketegangan berkepanjangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran di Timur Tengah.
Selain Iran, Amerika Serikat juga menghadapi rivalitas dengan China dan Korea Utara, meskipun belum mengarah pada konflik militer aktif. Di sisi lain, Rusia yang tengah terlibat perang dengan Ukraina juga tetap menjadi fokus pertahanan lama bagi Amerika Serikat.
Meskipun demikian, Anduril tidak membatasi pasar mereka hanya untuk militer domestik. Barnett menyatakan bahwa jika Angkatan Darat Amerika Serikat pada akhirnya tidak memilih EagleEye, Anduril akan memasarkan sistem teknologi tersebut kepada militer negara asing.