Kekhawatiran Presiden Prabowo Subianto mengenai potensi dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dijawab oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Dalam sebuah pertemuan di kediaman Prabowo, Purbaya meyakinkan bahwa APBN telah diantisipasi untuk menghadapi harga minyak hingga US$ 100 per barel. Purbaya menyampaikan hal ini saat pelantikan Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan yang baru di Jakarta Pusat, Jumat (27/3/2026).
"Ditanya sama presiden 'gimana APBN?', 'aman Pak', 'Kalau US$ 100?', 'aman Pak, sudah kita hitung sampai US$ 100 aman semua'," kata Purbaya, mengisahkan pertemuannya dengan Prabowo.
Menurut Purbaya, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengamankan APBN dari fluktuasi harga minyak. Namun, ia mengakui bahwa langkah-langkah ini belum sepenuhnya dipahami oleh publik, termasuk oleh Presiden Prabowo sendiri.
Purbaya merasa bahwa penyampaian informasi mengenai ketahanan APBN kepada publik masih kurang optimal. "Ada tindakan-tindakan yang kita bisa jalankan untuk itu, mengamankan itu, dan itu belum terpublikasikan dengan baik ke media," ujarnya.
Lebih lanjut, Purbaya memuji kinerja timnya dalam menjaga stabilitas harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tanpa membahayakan APBN. Ia juga menugaskan Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan yang baru, Robert Marbun, untuk meningkatkan komunikasi terkait stabilitas APBN kepada masyarakat.
"Dengan keberanian orang-orang ini kita bisa menjaga harga BBM di level yang sekarang tanpa membahayakan APBN. Jadi tim kita tuh jago, cuman di luar masih kurang dihargai ya. Kita masih kampanye tuh kita jago dibandingkan negara-negara tetangga kita," kata Purbaya.
Purbaya menambahkan, pengelolaan APBN dilakukan secara hati-hati dan terukur, tanpa mengambil langkah-langkah yang berisiko. "Jadi dengan keadaan yang seperti itu pun kita nggak pernah panik, di luar kita tenang terus walaupun kalau rapat panik sih. Tapi kita approach secara terukur, nggak pernah ada angka yang aneh-aneh yang nggak bisa kita hitung," tegasnya.