Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatatkan kenaikan sebesar 0,39% pada perdagangan Kamis (9/4), mencapai level 7.307,59. Penguatan ini, seperti dilansir dari Detik Finance, sebagian besar disokong oleh performa positif saham-saham energi dan industri.
Beberapa saham yang menunjukkan kinerja signifikan dalam mendorong kenaikan IHSG antara lain DSSA yang melesat 16,42%, BREN menguat 14,00%, serta TPIA yang melonjak 16,07%. Kenaikan saham-saham ini memberikan dorongan positif di tengah fluktuasi pasar.
Meskipun indeks menguat, tekanan jual masih terlihat pada saham-saham perbankan dengan kapitalisasi besar. Saham BBCA tercatat turun 4,07%, BBRI melemah 1,80%, dan BMRI terkoreksi 2,14%, menunjukkan adanya rotasi sektor oleh investor.
Aksi jual bersih oleh investor asing juga masih terjadi, dengan total penjualan mencapai Rp 1,77 triliun di pasar reguler dan Rp 1,74 triliun di seluruh pasar. Fenomena ini menandakan kehati-hatian investor global terhadap kondisi pasar domestik.
Dari sebelas sektor yang ada, enam di antaranya berhasil membukukan penguatan. Sektor consumer cyclical memimpin kenaikan dengan pertumbuhan 1,99%, sementara sektor keuangan mengalami penurunan terdalam sebesar 1,23%.
Pergerakan di pasar global juga menunjukkan sentimen positif. Bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat kompak, dengan Indeks Dow Jones naik 0,58% menjadi 48.185, S&P 500 bertambah 0,62% ke 6.824, dan Nasdaq menguat 0,83% ke 22.822.
Para pelaku pasar global terus mencermati dinamika geopolitik, khususnya perkembangan konflik di Timur Tengah. Harapan terhadap potensi gencatan senjata antara Iran dan pihak terkait masih ada, namun peningkatan serangan di Lebanon oleh Israel memicu investor untuk bersikap lebih waspada.
Situasi ini berpotensi menyebabkan Iran membatalkan perundingan damai, yang berdampak pada pelemahan indeks ETF EIDO dan MSCI Indonesia. Keduanya masing-masing terkoreksi 0,13% dan 0,23%.
Dalam ranah kebijakan domestik, Moody's menyoroti potensi peningkatan risiko pada bank-bank BUMN. Hal ini terkait dengan penugasan pembiayaan ke sektor-sektor prioritas pemerintah, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih (KMP), serta program perumahan.
Data otoritas menunjukkan bahwa total penyaluran kredit untuk program-program tersebut telah mencapai Rp 177,38 triliun. Untuk menjaga stabilitas industri, regulator tengah menyiapkan aturan yang mendorong partisipasi perbankan swasta dalam pembiayaan sektor prioritas ini.
Sementara itu, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) mengumumkan pembagian dividen final sebesar Rp 441,53 miliar dari laba bersih tahun buku 2025 yang mencapai Rp 1,23 triliun. Sebelumnya, perseroan telah membagikan dividen interim Rp 647,60 miliar pada November 2025.
Dengan demikian, total dividen yang akan dibagikan SIDO mencapai Rp 1,09 triliun, atau sekitar 90% dari laba bersih perusahaan. Jumlah ini setara dengan Rp 15 per saham. Jadwal cum dividen di pasar reguler ditetapkan pada 17 April, dengan pembayaran dividen akan dilakukan pada 7 Mei.