AS Andalkan Sistem Berlapis Deteksi Rudal Iran

Amerika Serikat mengandalkan jaringan sensor canggih di berbagai platform untuk mendeteksi ancaman rudal Iran secara cepat dan akurat.

Lonjakan harga minyak dunia dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi dampak dari peluncuran rudal dan drone oleh Iran ke sejumlah target strategis. Pertanyaan yang muncul, bagaimana Amerika Serikat (AS) mendeteksi ancaman rudal Iran dengan cepat?

Jawabannya adalah sistem pertahanan berlapis yang canggih. Untuk memantau pergerakan ancaman secara real-time, AS mengandalkan jaringan sensor yang tersebar di berbagai platform, mulai dari luar angkasa, darat, laut, hingga udara.

Deteksi rudal dimulai dari luar angkasa, seperti yang dilansir oleh The Conversation. AS menggunakan satelit khusus, yakni Space-Based Infrared System (SBIRS), yang mampu menangkap jejak panas dari peluncuran rudal dalam hitungan detik.

Satelit-satelit ini dilengkapi dengan sensor inframerah sensitif dan bernilai miliaran dolar. Fungsinya mendeteksi pancaran panas dari peluncuran rudal secara instan.

Sinyal peringatan dikirimkan dalam hitungan detik melalui komunikasi satelit aman ke stasiun darat atau Joint Tactical Ground Stations. Selanjutnya, informasi tersebut didistribusikan ke seluruh bagian jaringan pertahanan rudal.

Radar Canggih Lacak Arah dan Kecepatan

Setelah terdeteksi dari luar angkasa, pelacakan diambil alih oleh radar berbasis darat. Cara kerja radar adalah dengan memancarkan gelombang radio yang memantul dari objek seperti rudal.

Amerika Serikat mengoperasikan radar jarak pendek dan jarak jauh secara terintegrasi. Beberapa radar andalan AS meliputi:

  • AN/FPS-132 Early Warning Radar dengan jangkauan lebih dari 4.800 km
  • AN/TPY-2 Radar dengan jangkauan sekitar 3.200 km

Radar tersebut mampu menentukan posisi, kecepatan, dan arah rudal secara akurat. Dengan demikian, sistem pertahanan dapat melakukan intersepsi dengan tepat waktu.

Dilaporkan, beberapa radar ini sempat menjadi target serangan Iran di kawasan Timur Tengah. Satu unit TPY-2 di Yordania dan satu unit FPS-132 di Qatar berhasil diserang oleh pasukan Iran. AS terpaksa memindahkan unit TPY-2 tambahan dari Korea ke Timur Tengah karena sistem-sistem ini mahal dan sulit diganti dengan cepat.

Walaupun kemampuan pelacakan rudal AS mengalami degradasi akibat kehilangan aset-aset tersebut, jaringan pertahanan tetap beroperasi dengan mengandalkan radar lain. Salah satunya unit FPS-132 yang dioperasikan U.S. Space Force di Inggris. Radar ini berpotensi memberikan dukungan radar ke kawasan Timur Tengah.

Kapal dan Pesawat Perkuat Pengawasan

Selain mengandalkan darat dan satelit, AS juga menggunakan kapal perang dan pesawat sebagai sensor bergerak.

Kapal Angkatan Laut dilengkapi sistem radar Aegis (AN/SPY-1) yang mampu memantau hingga ratusan kilometer. Pesawat seperti E-3 Sentry dan drone MQ-9 Reaper membantu mengawasi area luas dari udara.

Fleksibilitas menjadi keunggulan utama sistem ini. Saat ada celah dalam pertahanan, kapal dan pesawat bisa dipindahkan untuk menutup area yang rentan.

Drone Iran Jadi Tantangan Baru

Tantangan yang berbeda muncul saat berhadapan dengan drone. Sistem warisan pertahanan udara AS lebih cocok untuk mendeteksi rudal yang bergerak cepat dan menghasilkan panas tinggi.

Sebaliknya, drone Iran seperti sistem Shahed punya karakteristik yang sulit dideteksi. Drone memiliki jejak panas minimal karena mesin berbahan bakar gas tidak mudah terdeteksi sensor inframerah. Hal tersebut menghilangkan isyarat peringatan awal yang biasanya diberikan satelit.

Umumnya, drone berukuran lebih kecil, terbang rendah, mudah tersembunyi di antara bangunan, serta sulit dibedakan dari burung atau objek lain. Beberapa drone bahkan dibuat dari material fiberglass dan plastik yang tidak memantulkan gelombang radar dengan baik.

AS menggunakan radar, pelacakan sinyal radio, serta kamera dan sensor lainnya untuk mendeteksi drone. Kombinasi ini dilakukan untuk menemukan dan melacak drone.

Banyak drone Iran justru tidak dapat dideteksi melalui sistem pelacakan sinyal radio karena tidak dikendalikan jarak jauh. Drone tersebut diprogram dengan koordinat GPS dan menavigasi dirinya sendiri menuju target.

Amerika Serikat dan sekutunya terus menyempurnakan sistem untuk menangkal rudal dan drone. Salah satu inovasi yang sedang dipertimbangkan adalah pembelian sensor akustik dari Ukraina. Sensor ini dapat mendengar suara drone saat tidak dapat dideteksi dengan metode lain.

Kombinasi sensor baru, perangkat lunak yang lebih baik, dan komunikasi yang lebih cepat akan memperkuat pertahanan. Tujuannya mendeteksi ancaman lebih awal, merespons lebih cepat, dan mengenai target dengan lebih akurat.

Efektivitas jaringan sensor berlapis ini menjadi faktor penentu keselamatan ribuan personel militer AS dan stabilitas kawasan secara keseluruhan, di tengah eskalasi ketegangan di Timur Tengah.

Recommended