AS dan Israel Gunakan Serangan Siber dalam Konflik dengan Iran

Konflik AS-Israel melawan Iran melibatkan ranah siber, dengan target sistem komunikasi dan pengawasan. Serangan siber berperan sebagai \

Konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga di dunia maya. Perang siber ini berlangsung di balik layar, meskipun jarang dibicarakan secara terbuka.

Berbeda dengan operasi militer konvensional yang sering dipublikasikan oleh militer AS, informasi mengenai operasi siber hampir tidak pernah diungkapkan secara rinci.

Namun, indikasi peran serangan digital mulai terlihat. Kelompok peretas yang diduga terkait dengan Iran mengklaim telah menyerang perusahaan teknologi medis AS, Stryker.

Komandan United States Central Command, Brad Cooper, mengisyaratkan bahwa operasi siber memang menjadi bagian dari konflik ini. "Kami terus menyerang Iran dari dasar laut hingga luar angkasa dan dunia siber," ujarnya.

Serangan siber seringkali mendahului konflik militer fisik. Menurut Ketua Kepala Staf Gabungan AS di Pentagon, Dan Caine, proses penentuan target serangan dapat memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Dalam fase persiapan ini, peretas yang bekerja untuk AS atau Israel diduga menyusup ke jaringan komputer penting di Iran. Target potensial termasuk sistem pertahanan udara dan jaringan komunikasi militer, seperti yang dilaporkan oleh detikINET dari BBC, Jumat (13/3/2026).

Selain itu, laporan media juga menyebutkan kemungkinan peretasan kamera CCTV dan lalu lintas di Iran untuk membangun jaringan pengawasan yang memantau aktivitas pejabat militer, termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Sergey Shykevich, pakar keamanan siber di Check Point, menjelaskan bahwa kamera yang terhubung ke internet menjadi target menarik karena memberikan informasi situasi lapangan secara real-time dengan biaya yang relatif rendah.

Analis berpendapat bahwa serangan siber biasanya berfungsi sebagai "force multiplier", memperkuat operasi militer konvensional, bukan sebagai senjata utama.

Membutakan Sistem Komunikasi

Setelah serangan awal, pejabat AS menyatakan bahwa tim di US Cyber Command dan US Space Command bergerak untuk melemahkan kemampuan Iran dalam melihat, berkomunikasi, dan merespons serangan.

Beberapa analis berspekulasi bahwa jaringan menara telepon seluler juga mungkin menjadi sasaran gangguan atau pematian untuk menghambat komunikasi militer Iran. Taktik serupa telah digunakan dalam konflik lain, termasuk perang antara Rusia dan Ukraina.

Iran Mulai Membalas

Aktivitas siber Iran dalam konflik ini sejauh ini relatif terbatas, meskipun dikenal sebagai salah satu kekuatan siber global.

Serangan paling signifikan yang dikaitkan dengan Iran adalah terhadap Stryker, dilakukan oleh kelompok peretas yang diduga memiliki hubungan dengan negara tersebut.

Kelompok tersebut dilaporkan menggunakan wiper malware, yang dirancang untuk menghapus data secara permanen. Iran sebelumnya menggunakan teknik serupa dalam serangan terhadap perusahaan minyak Saudi Aramco pada tahun 2012, menghancurkan sekitar 30.000 komputer.

Meskipun aktivitasnya saat ini terbatas, para pakar keamanan siber mengingatkan bahwa Iran masih berpotensi melancarkan serangan balasan melalui kelompok peretas yang didukung negara maupun kelompok hacktivist.

Recommended