Kuba tidak diizinkan menerima pasokan minyak mentah dari Rusia, demikian pernyataan Kementerian Keuangan Amerika Serikat (AS) di tengah krisis bahan bakar yang melanda negara tersebut.
Dalam dokumen yang dirilis oleh Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) Kementerian Keuangan AS, Kuba termasuk dalam daftar negara yang diblokir dari transaksi penjualan, pengiriman, atau bongkar muat minyak mentah atau produk minyak asal Rusia.
Pengumuman ini muncul setelah intelijen maritim AS melacak pergerakan dua kapal tanker Rusia yang membawa minyak dan gas menuju Kuba.
Sebelumnya, AS sempat mengizinkan pembelian minyak Rusia di tengah laut sebagai upaya menstabilkan pasar energi selama konflik AS dan Israel melawan Iran.
Rusia, yang telah lama menjalin aliansi dengan Kuba, mengecam keras blokade bahan bakar yang dilakukan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump. Rusia berjanji akan memberikan dukungan yang dibutuhkan Kuba, termasuk bantuan finansial.
Wakil Menteri Luar Negeri Kuba, Carlos Fernandez de Cossio, dalam konferensi pers di Havana, menegaskan bahwa sistem politik Kuba tidak dapat dinegosiasikan.
"Sistem politik Kuba tidak dapat dinegosiasikan, dan tentu saja baik presiden maupun posisi pejabat mana pun di Kuba tidak dapat dinegosiasikan dengan Amerika Serikat," kata Carlos Fernandez de Cossio, dikutip dari CNBC yang melansir laporan Reuters.
Kapal tanker berbendera Rusia, Anatoly Kolodkin, yang telah dikenai sanksi, juga diduga sedang menuju Kuba dengan membawa 730.000 barel minyak mentah, menurut perusahaan analisis maritim Kpler.
Pemerintahan Trump sebelumnya menyebut pemerintah Kuba sebagai "ancaman yang tidak biasa dan luar biasa" dan mengisyaratkan bahwa AS dapat mengalihkan perhatiannya ke Kuba setelah konflik dengan Iran.
Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, mengecam ancaman tersebut dan berjanji untuk menghadapi langkah pemerintahan Trump dalam memutus pasokan bahan bakar dengan perlawanan yang tak kenal lelah.