Aset Kripto Global Rontok, Transaksi Bitcoin Anjlok ke Rp 1,17 Miliar

Sejumlah aset kripto global rontok signifikan setelah mencetak rekor harga tertinggi pada 2025. Bitcoin anjlok ke Rp 1,17 miliar, transaksi kripto RI turun 16,9%.

Penurunan nilai sejumlah aset digital kripto global pasca-mencapai rekor harga tertinggi pada tahun 2025 kini menjadi sorotan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjelaskan faktor-faktor utama di balik koreksi besar-besaran ini, yang memengaruhi pasar secara signifikan. Salah satu aset kripto utama, Bitcoin (BTC), yang sempat menembus US$120.000 atau sekitar Rp2 miliar pada pertengahan tahun lalu, kini merosot drastis.

Harga Bitcoin saat ini tercatat anjlok ke level US$69.140, setara dengan sekitar Rp1,17 miliar. Penurunan tajam ini, seperti dilansir dari Detik Finance, terjadi sebagai imbas dari serangkaian konflik geopolitik yang memanas dalam beberapa bulan terakhir.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, menyatakan bahwa koreksi harga tersebut juga turut berdampak pada volume transaksi kripto. Data menunjukkan transaksi kripto di Indonesia mengalami penurunan sekitar 16,9% per Februari 2026. Angkanya menyusut menjadi Rp24,33 triliun, dari sebelumnya Rp29,28 triliun pada bulan Januari.

Adi Budiarso menjelaskan, "Peningkatan ketegangan geopolitik ini termasuk eskalasi perang dagang di Amerika dan China serta konflik di Timur Tengah, ini mendorong peningkatan risk-off, sentimen di pasar keuangan global." Pernyataan tersebut disampaikan Adi dalam konferensi pers virtual terkait hasil Rapat Dewan Komisioner, pada Senin (6/4/2026).

Selain ketegangan geopolitik, faktor lain yang berkontribusi pada penurunan harga aset kripto adalah kebijakan moneter dan fiskal yang ketat di Amerika Serikat (AS). Kebijakan ini memicu aksi likuidasi besar-besaran di pasar kripto.

"Pengetatan kebijakan moneter suku bunga tinggi di Amerika Serikat yang mempengaruhi likuiditas global, juga telah memicu likuidasi besar-besaran pada posisi leverage di pasar kripto. Hal ini tentunya menekan volume transaksi," ungkap Adi.

Adi menambahkan bahwa pasar kripto saat ini sedang berada dalam siklus konsolidasi besar setelah mencapai puncaknya di tahun 2025. Hal ini terlihat dari penurunan volume transaksi dan harga sejumlah aset kripto utama.

"Hal ini tercermin dari aspek global yang tadi saya sampaikan dan tadi market cap kripto turun sekitar 45% dari all time high-nya di sekitar US$4,2 triliun di tahun 2025 akhir ya, Oktober. Dan menjadi sekitar US$2,3 triliun di Maret 2026 yang lalu," pungkasnya.

Tidak hanya Bitcoin, altcoin seperti Ether (ETH) juga mengalami nasib serupa. Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap, Ether sempat menyentuh harga puncak lebih dari US$4.700 atau sekitar Rp80 juta. Namun, kini harga Ether telah turun signifikan menjadi US$2.134, atau sekitar Rp36,36 juta.

Recommended