Pembatasan pengiriman bahan bakar minyak (BBM) dari pemasok Timur Tengah melalui Selat Hormuz, akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, menyebabkan kawasan Asia mengalami kesulitan dalam mengakses pasokan alternatif.
Kondisi ini mendorong para pedagang BBM di Asia untuk mencari sumber pasokan dari wilayah Barat. Pembatasan ini juga berpotensi meningkatkan biaya transportasi di pelabuhan bunker utama Singapura dalam beberapa minggu ke depan.
Kenaikan biaya transportasi akan berdampak pada harga yang lebih tinggi bagi perusahaan pengangkutan barang. Meningkatnya kekhawatiran akan kelangkaan minyak juga memicu lonjakan harga di pasar BBM, terutama minyak bersulfur tinggi dari Timur Tengah.
Menurut data dari Kpler, volume ekspor BBM rata-rata yang melewati Selat Hormuz menuju Asia mencapai 1,2 juta metrik ton per bulan, atau sekitar 246.000 barel per hari. Sekitar 70% dari jumlah tersebut merupakan pasokan untuk Asia Tenggara.
Secara keseluruhan, ekspor BBM melalui Selat Hormuz mencapai sekitar 3,7 juta ton per bulan. Aktivitas lalu lintas kapal tanker tercatat menurun hingga 90% selama periode konflik AS-Iran.
Analis Kpler, Sumit Ritolia, menyampaikan, "Ketika sebagian besar kompleks sulfur tinggi global bergantung pada satu titik rawan, bahkan gangguan transit sebagian pun dapat dengan cepat memperketat keseimbangan dan memperkuat volatilitas bahan bakar kapal," dikutip dari Reuters, Jumat (6/3/2026).
Harga bahan bakar bersulfur tinggi yang dikirim ke Singapura telah naik lebih dari 40% sejak awal konflik, sementara BBM bersulfur rendah naik lebih dari 30%.
Sebagian pasokan BBM bersulfur tinggi kini berasal dari kilang di negara-negara Barat dengan tarif kapal tanker yang sangat tinggi. Kondisi ini menjadi tantangan baru bagi para pedagang BBM di Singapura.
Seorang pedagang di Singapura mengatakan, "Semua orang kesulitan mencari minyak untuk paruh kedua bulan Maret. Kapal tanker terlalu mahal dan peluang arbitrase ke Singapura tertutup."
Sumber pasokan alternatif berasal dari AS dan Meksiko, namun tidak mencukupi kebutuhan. Pengiriman dari Venezuela juga belum tiba di Asia tahun ini. Pasokan dari Rusia dianggap sensitif karena sanksi perang yang masih berlaku.
Pedagang lain menambahkan, "Jelas ada juga Rusia, tetapi pasokan bahan bakar ini tetap sensitif bagi beberapa pembeli."
Bahan bakar minyak Iran juga terkena sanksi jangka panjang, meskipun China masih melakukan pembelian. Namun, pengiriman tersebut terhenti karena konflik.
Perusahaan konsultan FGE NexantECA memperkirakan bahwa China akan mengekspor pasokan BBM bersulfur tinggi dari Rusia jika Iran mengurangi pengirimannya. Kondisi ini membatasi ketersediaan pasokan di Selat Singapura.
Sejumlah pedagang lain beralih ke kilang regional Asia, namun volumenya diperkirakan menurun karena pemangkasan produksi di tengah perang Timur Tengah. Biaya pengisian ulang di masa mendatang diperkirakan akan melonjak karena semakin ketatnya pasokan di pasar.
Meskipun pasar sedang mengatasi penumpukan persediaan darat yang besar di Singapura serta volume yang disimpan di kapal, persediaan tersebut diperkirakan akan berkurang tajam dalam beberapa minggu mendatang.