Asing Borong Saham BUMI Saat Harga Longsor, Strategi Bottom Fishing atau Sinyal Rebound?

Peta pergerakan modal asing di Bursa Efek Indonesia mendadak berubah arah pada perdagangan Jumat (6/2). PT Bumi Resources Tbk (BUMI) secara mengejutkan menjadi magnet utama bagi investor luar negeri yang justru getol melakukan aksi borong saat harga sahamnya sedang tertekan cukup dalam.

Fenomena menarik terjadi ketika Saham BUMI mencatatkan volume beli bersih (net buy) tertinggi di tengah koreksi harga yang mencapai 6,67% ke level Rp 224 per lembar pada sesi I. Situasi ini memicu spekulasi di kalangan pelaku pasar: apakah asing sedang melakukan strategi bottom fishing atau ada sentimen besar yang belum terendus publik sepenuhnya?

Perputaran Dana Fantastis di Tengah Koreksi

Berdasarkan data resmi Bursa Efek Indonesia (IDX), intensitas perdagangan emiten batu bara milik Grup Bakrie dan Salim ini memang luar biasa tinggi. Hingga jeda siang, tercatat sebanyak 4,12 miliar saham telah berpindah tangan. Frekuensi transaksinya pun sangat agresif, menyentuh angka 79,8 ribu kali dengan nilai perputaran uang mencapai Rp 941,8 miliar.

Angka ini bukan main-main untuk ukuran perdagangan setengah hari. Nilai transaksi yang hampir menyentuh Rp 1 triliun ini menunjukkan likuiditas BUMI sangat cair. Meski layar perdagangan didominasi warna merah, arus modal masuk dari investor asing justru menjadi penahan agar harga tidak semakin terperosok ke zona yang lebih dalam.

Asing “Lapar”, Stockbit Catat Volume Net Buy Tertinggi

Data dari platform Stockbit mempertegas dominasi asing pada perdagangan hari ini. BUMI menduduki posisi pertama dari sisi volume beli bersih oleh pemodal internasional. Tak tanggung-tanggung, akumulasi beli bersih asing tercatat sebanyak 462.878.800 saham.

Langkah asing ini tergolong anomali jika melihat kinerja harian harga sahamnya. Biasanya, investor ritel cenderung panik saat harga turun hampir 7%, namun pemodal institusi atau asing justru melihat ini sebagai diskon besar. Keputusan asing kembali masuk ke BUMI hari ini seolah memutarbalikkan kondisi hari sebelumnya.

Sebagai catatan, pada perdagangan Kamis (5/2), asing terpantau melakukan aksi lepas barang. Saat itu, BUMI mencatatkan net sell sebesar Rp 84,93 miliar. Perubahan drastis dari jual menjadi beli dalam kurun waktu kurang dari 24 jam ini menandakan adanya pergeseran sentimen yang sangat dinamis di lantai bursa.

Analisis Strategi di Balik Akumulasi Masif Saham BUMI

Mengapa asing rela menelan jutaan lot saham di saat harganya sedang tiarap? Dalam mekanisme pasar modal, aksi “borong saat turun” sering kali dilakukan oleh big money yang memiliki horison investasi jangka panjang. Mereka cenderung mengabaikan fluktuasi harian dan lebih fokus pada nilai intrinsik atau prospek komoditas batu bara global yang masih volatil namun menjanjikan margin tebal.

Selain itu, keterlibatan Grup Salim di dalam struktur pemegang saham BUMI memberikan tingkat kepercayaan yang berbeda dibandingkan beberapa tahun silam. Sinergi antara Bakrie dan Salim dianggap memperkuat struktur permodalan perusahaan, yang kemungkinan besar menjadi alasan mengapa asing berani kembali masuk meski kondisi pasar sedang tidak menentu.

Menakar Peluang Rebound Pekan Depan

Jika melihat pola perdagangan hari ini, posisi harga di Rp 224 tampaknya menjadi area support psikologis yang cukup kuat. Volume transaksi yang sangat besar biasanya menjadi indikator awal akan adanya perlawanan harga. Jika akumulasi asing terus berlanjut hingga penutupan pasar sore nanti, peluang untuk terjadinya technical rebound pada awal pekan depan terbuka lebar.

Namun, pelaku pasar tetap harus waspada. Koreksi 6,67% dalam satu sesi menunjukkan tekanan jual dari investor domestik atau ritel masih cukup kuat. Perang urat saraf antara aksi jual masif lokal dan aksi tampung asing inilah yang akan menentukan arah gerak BUMI dalam 72 jam ke depan.


Mekanisme Top Stories: Mengapa Pergerakan BUMI Penting?

Bagi investor yang memantau Berita Utama atau Google News, pergerakan BUMI selalu menjadi indikator kesehatan sentimen sektor komoditas. Sebagai salah satu saham dengan jumlah pemegang saham terbanyak di Indonesia, setiap pergerakan signifikan pasti memicu diskusi luas di forum-forum investasi.

Update real-time mengenai posisi net buy asing sangat krusial. Dalam dunia redaksi media ekonomi, data flow seperti ini adalah “bahan bakar” yang menjaga sebuah berita tetap relevan selama berhari-hari. Investor tidak hanya ingin tahu harga saat ini, tapi siapa yang sedang membeli dan siapa yang sedang berjualan.

Data Rangkuman Perdagangan BUMI (Sesi I – 6 Februari 2026):

  • Harga Terakhir: Rp 224 (-6,67%)

  • Volume Transaksi: 4,120 Miliar Saham

  • Nilai Transaksi: Rp 941,8 Miliar

  • Net Buy Asing (Volume): 462,8 Juta Saham

  • Status: Top Net Buy by Volume (Asing)

Dengan volume beli asing yang sedemikian masif, pelaku pasar kini menantikan apakah aksi borong ini akan berlanjut pada sesi II. Jika konsisten, maka BUMI berpotensi memimpin klasemen saham paling aktif sepanjang pekan ini.

Sumber Data: Laporan harian IDX (Indonesia Stock Exchange) & Data Real-time Market Stockbit per 6 Februari 2026.

Recommended