Pasar modal Indonesia menunjukkan dinamika menarik pada perdagangan medio pekan ini. Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpaksa parkir di zona merah dengan koreksi 0,53% ke level 8.103,8 pada penutupan Kamis (5/2), aliran modal asing justru tampak masih deras mengalir ke sejumlah saham blue chip. Fenomena ini memberikan sinyal bahwa investor kakap melihat penurunan indeks sebagai kesempatan untuk melakukan akumulasi pada harga yang lebih kompetitif.
Aksi beli bersih atau Net Buy yang dilakukan investor mancanegara ini menjadi sorotan utama bagi para pelaku pasar. Berdasarkan data dari Stockbit, pergerakan dana asing terkonsentrasi pada sektor perbankan dan manufaktur besar. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor global terhadap fundamental ekonomi domestik tetap terjaga meski volatilitas pasar sedang meningkat akibat dinamika global maupun tekanan aksi ambil untung di dalam negeri.
Perbankan Tetap Jadi “Safe Haven” Investor Asing
Sektor perbankan, khususnya bank-bank masuk dalam kategori KBMI 4, kembali membuktikan tajinya sebagai primadona bagi modal asing. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) memimpin barisan dengan catatan beli bersih yang sangat signifikan. Di tengah tekanan jual yang melanda indeks, saham BMRI justru diserbu asing dengan nilai transaksi mencapai Rp 390,1 miliar.
Langkah ini diikuti oleh raksasa perbankan lainnya, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Emiten yang fokus pada sektor UMKM ini mencatatkan transaksi beli bersih sebesar Rp 124,1 miliar. Tidak berhenti di situ, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga masuk dalam jajaran sepuluh besar dengan nilai beli bersih Rp 73,7 miliar. Konsistensi asing di sektor perbankan ini sering kali dianggap sebagai indikator bahwa prospek suku bunga dan margin bunga bersih (NIM) perbankan Indonesia masih sangat menjanjikan untuk sepanjang tahun 2026.
Astra International dan Sektor Komoditas Ikut Kebanjiran Modal
Selain perbankan, PT Astra International Tbk (ASII) muncul sebagai motor penggerak aliran dana masuk. Saham yang sering dianggap sebagai barometer ekonomi nasional ini mencatatkan net buy asing sebesar Rp 118,9 miliar. Masuknya dana besar ke ASII memberikan angin segar bagi sektor industri otomotif dan alat berat yang menjadi tulang punggung perusahaan ini.
Sektor energi dan sumber daya mineral pun tidak luput dari pantauan. Nama-nama seperti PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) terlihat nangkring di daftar belanja asing. Meskipun harga komoditas global sedang fluktuatif, minat asing pada emiten berbasis nikel, batu bara, dan minyak menunjukkan adanya strategi diversifikasi portofolio untuk menjaga performa di tengah koreksi IHSG.
Daftar Lengkap 10 Saham Buruan Asing (Kamis, 5 Februari 2026)
Berikut adalah rincian 10 saham dengan nilai beli bersih terbesar oleh investor asing yang menjadi penggerak pasar di tengah penurunan indeks:
-
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI): Rp 390,1 miliar
-
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): Rp 124,1 miliar
-
PT Astra International Tbk (ASII): Rp 118,9 miliar
-
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Rp 73,7 miliar
-
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA): Rp 48,5 miliar
-
PT Petrosea Tbk (PTRO): Rp 29,6 miliar
-
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT): Rp 27,3 miliar
-
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS): Rp 27 miliar
-
PT Bukit Asam Tbk (PTBA): Rp 26,6 miliar
-
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC): Rp 19,3 miliar
Memahami Tekanan IHSG: Mengapa Indeks Melemah?
Penurunan IHSG sebesar 42,84 poin ke level 8.103,8 dipicu oleh aksi jual pada 370 saham, sementara hanya 314 saham yang mampu menguat. Sebanyak 274 saham terpantau stagnan alias tidak bergerak dari posisi penutupan sebelumnya. Volume perdagangan hari ini mencapai angka yang cukup masif, yakni 33,53 miliar saham dengan total nilai transaksi menembus Rp 19,95 triliun.
Secara teknikal, koreksi ini dianggap wajar mengingat IHSG telah mencatatkan reli dalam beberapa waktu terakhir. Para analis melihat adanya kecenderungan profit taking atau aksi ambil untung oleh investor domestik saat indeks berada di level psikologis 8.100. Namun, tingginya nilai transaksi dan tetap masuknya dana asing menunjukkan bahwa likuiditas di pasar masih sangat tebal.
Strategi Mengikuti Aliran Dana Asing (Foreign Flow)
Bagi investor ritel, memperhatikan aliran dana asing atau foreign flow bisa menjadi salah satu strategi jitu. Secara historis, saham-saham yang terus dikoleksi asing di tengah pelemahan indeks sering kali menjadi saham yang paling cepat rebound saat pasar kembali bergairah.
Mekanisme Top Stories di Google News biasanya akan terus menyoroti pergerakan saham BMRI dan BBRI dalam 24 jam ke depan, mengingat besarnya nilai transaksi yang terjadi. Jika tren net buy ini berlanjut pada perdagangan akhir pekan, besar kemungkinan IHSG akan kembali mencoba menembus level resistance barunya.
Sumber : investor.id