PT Bank Mega Tbk (MEGA) mengumumkan pembagian dividen tunai sebesar Rp2 triliun untuk tahun buku 2025. Jumlah ini setara dengan Rp171,95 per lembar saham dan merupakan 60% dari total laba bersih perseroan yang mencapai Rp3,36 triliun pada tahun tersebut. Keputusan ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 90% dibandingkan dividen yang dibagikan pada tahun 2024.
Direktur Utama Bank Mega, Kostaman Thayib, menjelaskan bahwa sisa laba sebesar Rp1,3 triliun akan dicatat sebagai saldo laba. Dana ini akan digunakan sebagai laba ditahan untuk memperkuat modal Bank Mega, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
"Bank Mega akan membagikan dividen tunai sebesar 60% dari laba bersih di tahun 2025 sebesar Rp3,36 triliun rupiah. Jadi, 60% dari Rp3,36 triliun adalah sekitar Rp2 triliun rupiah. Di akhir tahun 2025, CAR Bank Mega adalah 30%. Tentu pembagian 60% ini tidak akan terlalu mempengaruhi CAR Bank Mega ke depannya," ujar Kostaman dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Selasa (31/6/2026).
Selain pembagian dividen, RUPST juga menyetujui penyisihan dana cadangan sebesar Rp35,1 juta sesuai dengan ketentuan Pasal 70 Undang-Undang Perseroan Terbatas (UUPT). Perseroan juga memutuskan pembagian saham bonus dengan total nilai Rp5,87 triliun, yang berasal dari kapitalisasi tambahan modal disetor (agio saham).
Sebanyak 11,74 miliar saham bonus akan dibagikan secara proporsional kepada setiap pemegang saham dengan rasio 1:1. Penyaluran kredit Bank Mega pada 2025 tetap berfokus pada segmen korporasi, menunjukkan pertumbuhan 4% menjadi Rp67,23 triliun. Rasio kredit macet (Non-Performing Loan/NPL) Bank Mega juga membaik menjadi 1,65% pada 2025, menurun dari 1,69% pada tahun sebelumnya.
Kostaman menambahkan bahwa total aset Bank Mega mengalami peningkatan sekitar 4%, dari Rp135 triliun menjadi Rp141 triliun. Meskipun Bank Mega berada di posisi ke-19 dari sisi aset, dari segi laba setelah pajak (PAT), perseroan menempati posisi ke-10 di antara seluruh bank di Indonesia.
Peningkatan dividen ini sejalan dengan kinerja keuangan PT Pinago Utama Tbk (PNGO) yang juga mencatatkan laba bersih melonjak 46% menjadi Rp322,56 miliar pada 2025, seperti diberitakan IDXChannel. Demikian pula, PT Semen Baturaja (Persero) Tbk (SMBR) membukukan laba bersih Rp171,92 miliar, naik 33% dibandingkan 2024, didorong oleh peningkatan pendapatan dan efisiensi beban keuangan, dikutip dari Kompas.com.
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencabut izin usaha PT Bank Perekonomian Rakyat (BPR) Pembangunan Nagari di Agam, Sumatra Barat, pada 31 Maret 2026. Kepala OJK Sumbar Roni Nazra menyatakan bahwa keputusan ini diambil setelah BPR tersebut gagal melakukan penyehatan dan memenuhi Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) yang kurang dari 12%, seperti yang dilaporkan Bisnis.com. OJK menegaskan, pencabutan izin ini merupakan bagian dari upaya pengawasan untuk memperkuat industri perbankan dan menjaga kepercayaan masyarakat.
Kebijakan dividen Bank Mega menunjukkan komitmen perseroan terhadap investor. Pada tahun buku 2025, Bank Mega membagikan dividen 60% dari laba bersih. Berikut perbandingan dengan beberapa bank pelat merah:
| Bank | Rasio Dividen | Laba Bersih 2025 | Dividen Tunai |
|---|---|---|---|
| 60% | Rp3,36 triliun | Rp2 triliun | 40% |
| Rp27 triliun | Rp10,8 triliun | 35% | Rp8,5 triliun |
| Rp2,97 triliun | 45% | Rp22 triliun | Rp9,9 triliun |
Data tersebut menunjukkan rasio dividen Bank Mega termasuk tinggi dibandingkan bank-bank besar lainnya, mencerminkan strategi perusahaan dalam mempertahankan loyalitas investor jangka panjang. Meskipun ada pembagian dividen yang signifikan, Bank Mega tetap menjaga posisi CAR-nya di level yang aman, yakni 30%.
Strategi Bank Mega di Masa Depan
Bank Mega berencana untuk terus mengembangkan bisnisnya, khususnya di segmen ritel dan UMKM. Langkah-langkah strategis yang akan diambil meliputi perluasan jaringan digital banking untuk meningkatkan pengalaman pengguna, pengembangan produk inovatif yang sesuai dengan kebutuhan nasabah, penguatan sinergi dengan anak usaha dan afiliasi CT Corp, serta peningkatan efisiensi operasional guna menjaga profitabilitas.
Investor diharapkan memperhatikan rekam jejak pembagian dividen yang konsisten serta kinerja laba bersih yang cenderung meningkat. Namun, kondisi makroekonomi, suku bunga, dan regulasi perbankan dapat memengaruhi keputusan manajemen dalam pembagian dividen di masa mendatang.