Utang Pinjol dan Paylater Masyarakat Indonesia Tembus Rp156 Triliun

Total utang pinjol dan paylater masyarakat Indonesia mencapai lebih dari Rp156 triliun hingga Februari 2026 akibat tingginya konsumsi rumah tangga.

Nilai outstanding utang masyarakat Indonesia melalui layanan pinjaman online (pinjol) dan paylater mengalami lonjakan signifikan hingga mencapai Rp156,99 triliun pada Februari 2026. Tren ini dipicu oleh tingginya ketergantungan warga pada akses keuangan digital untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat utang pada layanan peer-to-peer (P2P) lending atau pinjol menyentuh angka Rp100,69 triliun. Data yang dilansir dari Detik Finance tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 25,75 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Peningkatan lebih tajam terjadi pada transaksi buy now pay later (BNPL) atau paylater yang dikelola PT Pefindo Biro Kredit (IdScore). Layanan ini tumbuh pesat hingga 86,7 persen secara tahunan dengan total nilai transaksi mencapai Rp56,3 triliun per akhir Februari 2026.

Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, menilai fenomena ini sebagai indikasi memburuknya kondisi keuangan masyarakat, terutama di sektor konsumtif. Ia menyoroti bahwa kenaikan utang ini tidak dibarengi dengan pertumbuhan pinjaman produktif bagi dunia usaha.

"Artinya masyarakat jelas makin lama makin banyak utangnya. Saya kira ini memang bukan pertanda baik karena kebanyakan pinjaman itu untuk konsumtif. Saya kira itu yang kita lihat ketimbang pinjaman produktif untuk dunia usaha," kata Tauhid Ahmad, Ekonom Senior INDEF pada Senin (11/5/2026).

Meskipun tingkat kredit bermasalah atau NPL dinilai masih terjaga, beban bunga yang tinggi dikhawatirkan menciptakan siklus gali lubang tutup lubang. Masyarakat cenderung mengambil pinjaman baru sesaat setelah menyelesaikan kewajiban utang sebelumnya untuk tetap bertahan hidup.

Kondisi ini diperparah dengan stagnasi pertumbuhan tabungan nasabah di bawah Rp100 juta yang mencerminkan menipisnya simpanan kelas menengah ke bawah. Tauhid berpendapat bahwa saat ini telah terjadi pergeseran perilaku ekonomi dari fenomena makan tabungan menjadi makan utang.

Kelompok masyarakat yang memiliki sedikit atau tanpa tabungan menjadi basis konsumen terbesar bagi layanan pinjaman online. Ketiadaan dana tunai membuat kelompok ini tidak memiliki pilihan selain menggunakan instrumen utang untuk membiayai kebutuhan mendesak mereka.

Recommended