Pemerintah mencatat realisasi belanja negara pada triwulan I 2026 mencapai Rp815 triliun atau tumbuh 31,4 persen secara tahunan hingga Senin, 27 April 2026. Percepatan penyerapan anggaran ini diproyeksikan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional pada awal tahun anggaran.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menjelaskan bahwa serapan belanja tersebut setara dengan 21,2 persen dari total target APBN 2026. Angka ini menunjukkan progres yang lebih masif dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai 17,1 persen.
"Di triwulan I ini, belanja sudah mencapai 21,2 persen dari APBN. Dibandingkan tahun lalu, realisasi belanja negara jauh lebih cepat," kata Juda Agung di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, sebagaimana dilansir dari Medcom.
Data Kementerian Keuangan merinci belanja pemerintah pusat mendominasi dengan nilai Rp610,3 triliun atau 19,4 persen dari target, yang berarti tumbuh 47,7 persen secara tahunan. Namun, komponen transfer ke daerah tercatat sebesar Rp204,8 triliun, mengalami penurunan tipis 1,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari sisi penerimaan, pendapatan negara terkumpul Rp574,9 triliun atau naik 10,5 persen secara tahunan. Realisasi ini mencakup penerimaan perpajakan senilai Rp462,7 triliun dan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp112,1 triliun yang terkoreksi turun 3 persen.
Kombinasi antara akselerasi belanja dan capaian pendapatan menghasilkan defisit APBN sebesar Rp240,1 triliun pada akhir Maret 2026. Nilai defisit tersebut setara dengan 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Pemerintah optimistis percepatan belanja ini mampu menyokong pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 di level 5,5 persen. Keyakinan tersebut didasarkan pada lonjakan penerimaan PPN dan PPnBM sebesar 57,7 persen menjadi Rp155,6 triliun yang menandakan geliat konsumsi rumah tangga.
Juda menyebut penguatan ekonomi domestik ini merupakan kelanjutan tren dari akhir tahun lalu. Meski demikian, otoritas keuangan tetap mewaspadai sedikit pelemahan ekspektasi pada Maret akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memengaruhi ketidakpastian global.