PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) mencatatkan total aset sebesar Rp25,3 triliun hingga akhir Maret 2026 di tengah dinamika ekonomi global. Capaian ini didorong oleh pertumbuhan piutang pembiayaan yang dikelola sebesar 5,5 persen secara tahunan menjadi Rp26,8 triliun.
Dilansir dari Medcom, perusahaan menyalurkan pembiayaan baru sebesar Rp5,5 triliun sepanjang kuartal I-2026. Angka tersebut menunjukkan performa yang stabil jika dibandingkan dengan periode kuartal sebelumnya, meski daya beli masyarakat dibayangi ketegangan geopolitik dunia.
Sektor modal kerja menyerap porsi signifikan dari total piutang yang dikelola, yakni sebesar 57,8 persen atau setara Rp15,5 triliun. Penyaluran ini ditujukan bagi berbagai skala usaha guna mendukung keberlangsungan aktivitas ekonomi domestik.
"Pendekatan selektif dan disiplin menjadi kunci dalam mengantisipasi volatilitas pasar serta menjaga fondasi keberlanjutan bisnis kami," ujar Sutadi, Presiden Direktur BFI Finance.
Komposisi portofolio masih didominasi oleh pembiayaan kendaraan roda empat sebesar 68,1 persen. Sisanya berasal dari alat berat dan mesin sebesar 15,0 persen, pembiayaan beragun properti 8,9 persen, serta kendaraan roda dua 8,0 persen.
Manajemen berhasil menjaga kualitas kredit dengan rasio Non-Performing Financing (NPF) bruto di level 1,57 persen dan NPF neto 0,25 persen per 31 Maret 2026. Angka ini tercatat lebih rendah daripada rata-rata industri multifinance nasional.
BFI Finance membukukan pendapatan sebesar Rp1,7 triliun dengan perolehan laba bersih mencapai Rp354,3 miliar. Rasio profitabilitas perusahaan tetap solid dengan Return on Assets (RoA) 7,0 persen dan Return on Equity (RoE) 13,0 persen.
Pada sisi likuiditas, perusahaan telah menuntaskan pembayaran pokok dan bunga Obligasi Berkelanjutan V Tahap III Tahun 2023 Seri C pada Januari 2026. Fitch Ratings Indonesia memberikan peringkat nasional jangka panjang di level ‘AA-(idn)’ dengan outlook stabil.