PT Brantas Abipraya (Persero) mengintensifkan pengerjaan proyek Sekolah Rakyat (SR) di Sulawesi Utara dan Kalimantan Selatan agar dapat digunakan pada tahun ajaran baru 2026. Berdasarkan laporan pada Selasa (5/5/2026), perusahaan menargetkan seluruh rangkaian pembangunan selesai pada 20 Juni mendatang.
Dilansir dari Detik Finance, capaian pembangunan Sekolah Rakyat di wilayah Minahasa, Sulawesi Utara, telah menyentuh angka 37,51 persen hingga awal Mei 2026. Angka tersebut menunjukkan deviasi positif sebesar 2,36 persen dari rencana awal pengerjaan struktur utama dan kawasan.
Sementara itu, kemajuan fisik pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Barito Kuala dan Banjarbaru, Kalimantan Selatan, mencatatkan angka yang lebih tinggi yakni 52,49 persen. Proyek ini juga dilaporkan mengalami deviasi positif dalam pelaksanaannya di lapangan.
Komisaris Independen Brantas Abipraya, Isra D. Pramulya, mengonfirmasi bahwa akselerasi pekerjaan tetap memprioritaskan standar mutu dan aspek keselamatan. Penegasan ini disampaikan saat melakukan peninjauan langsung ke lokasi proyek di wilayah Kalimantan.
"Pembangunan Sekolah Rakyat ini kami pastikan tidak hanya selesai tepat waktu, tetapi juga memenuhi standar kualitas terbaik serta mengedepankan aspek keselamatan kerja," ujar Isra D. Pramulya, Komisaris Independen Brantas Abipraya.
Hambatan operasional seperti curah hujan tinggi dan kelangkaan pasokan solar sempat memengaruhi distribusi material alam ke unit pengolahan beton. Namun, perusahaan telah mengalihkan metode pengiriman material tertentu menggunakan pesawat Hercules dan kargo udara untuk menjaga kelancaran suplai.
Guna mengejar target, jumlah tenaga kerja ditambah hingga mencapai 600 orang dengan dukungan sistem kerja tiga shift. Brantas Abipraya juga menambah jumlah mobile crane menjadi empat unit dan mengubah metode pengecoran pelat dari sistem konvensional menjadi metal deck.
Penerapan teknologi konstruksi lainnya meliputi penggunaan fasad GRC super panel untuk menggantikan plester aci serta pemakaian bondex dan wiremesh di Barito Kuala. Struktur gedung SMA juga dialihkan dari beton bertulang menjadi penggunaan baja profil demi efisiensi waktu.
Fasilitas Sekolah Rakyat ini dirancang sebagai asrama terpadu yang mencakup jenjang pendidikan SD hingga SMA. Kompleks pendidikan tersebut akan dilengkapi dengan rumah susun guru, asrama siswa, masjid, gedung serbaguna, hingga sarana olahraga bagi para murid.