BRIN Kembangkan Metode AI untuk Pemetaan Kawasan Kumuh di Bandung

BRIN mengintegrasikan teknologi kecerdasan artifisial dan pengetahuan lokal untuk memetakan kawasan kumuh di Bandung guna mendukung pembangunan kota.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menginisiasi pengembangan metode inovatif menggunakan kecerdasan artifisial (AI) dan kearifan lokal untuk memetakan kawasan kumuh di Kota Bandung pada Senin, 11 Mei 2026. Langkah ini diambil untuk meningkatkan akurasi identifikasi permukiman tidak layak huni.

Sebagaimana dilansir dari Medcom, proyek penelitian ini memanfaatkan algoritma Random Forest untuk mengklasifikasi area permukiman secara otomatis. Data yang digunakan mencakup citra satelit SPOT-6 dengan resolusi 1,5 meter serta informasi spasial dari OpenStreetMap.

Peneliti Pusat Riset Geoinformatika BRIN, Orbita Roswintiarti, menjelaskan bahwa pendefinisian kawasan kumuh merujuk pada pemukiman dengan bangunan tidak teratur dan minim sarana prasarana. Karakteristik ini sering memicu masalah lingkungan dan sosial di wilayah perkotaan.

"Kondisi tersebut dapat memicu degradasi lingkungan, meningkatkan risiko kesehatan masyarakat, memperbesar kerentanan terhadap bencana, hingga memperlebar kesenjangan sosial," ujar Orbita Roswintiarti, Peneliti Pusat Riset Geoinformatika BRIN.

Selain mengandalkan teknologi mesin pembelajar, BRIN juga mengintegrasikan pengetahuan masyarakat setempat dan kebijakan pemerintah daerah. Pendekatan hibrida ini bertujuan agar hasil klasifikasi teknologi tetap kontekstual dan memiliki legitimasi sosial yang kuat.

Tim peneliti telah melakukan verifikasi lapangan di 25 lokasi berbeda untuk memastikan validitas data hasil analisis AI. Sinergi antara data satelit dan verifikasi manual ini diharapkan menghasilkan kerangka kerja pemetaan yang lebih efisien dan akurat.

Inovasi ini juga diproyeksikan untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG 11) mengenai kota yang inklusif. Hasil riset tersebut telah dipresentasikan dalam forum pemuda di Universitas Gadjah Mada sebagai bagian dari pertukaran pengetahuan analisis dampak bencana.

Recommended