BRIN Pastikan Virus Andes Belum Masuk ke Wilayah Indonesia

Peneliti BRIN mengonfirmasi bahwa hantavirus jenis virus Andes belum ditemukan di Indonesia meski masyarakat diminta tetap mewaspadai hewan pengerat.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan klarifikasi resmi pada Senin (11/5/2026) terkait kekhawatiran masyarakat mengenai ancaman hantavirus yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Para peneliti memastikan bahwa hingga saat ini belum ditemukan laporan kasus virus Andes di Indonesia.

Dilansir dari Detik iNET, Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto, menjelaskan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik yang ditularkan melalui hewan pengerat atau rodensia. Virus ini umumnya dibawa oleh tikus rumah, tikus got, hingga mencit liar.

Fokus perhatian saat ini tertuju pada virus Andes yang berasal dari tikus liar di kawasan Patagonia, Amerika Selatan. Infeksi virus ini dapat memicu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), sebuah gangguan paru-paru berat yang berisiko menyebabkan gagal napas akut pada pasien.

"Penularan umumnya terjadi ketika manusia menghirup partikel halus dari urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi," kata Ristiyanto, Peneliti BRIN. Ia menambahkan bahwa tingkat kematian akibat infeksi HPS cukup signifikan, yakni berada pada rentang 20 hingga 35 persen.

Meskipun Indonesia memiliki populasi tikus yang padat di wilayah permukiman, riset panjang menunjukkan virus mematikan ini tidak ditemukan pada tikus domestik maupun liar di tanah air. Gejala awalnya sering kali menyerupai flu biasa seperti demam, mual, dan nyeri otot.

Peneliti BRIN lainnya, Arief Mulyono, menegaskan bahwa pola penyebaran hantavirus tidak secepat COVID-19 atau influenza yang menular melalui udara bebas. Penularan antarmanusia pada kasus virus Andes sangat jarang dan hanya terjadi lewat kontak fisik yang intensif dalam durasi lama.

Risiko paparan lebih tinggi ditemukan pada kelompok profesi tertentu seperti petani, petugas kebersihan, dan pekerja kehutanan. BRIN merekomendasikan penggunaan masker dan sarung tangan saat membersihkan area kotor serta menyemprotkan disinfektan pada kotoran tikus sebelum disapu untuk mencegah debu beterbangan.

Recommended