British Council Dorong Pendidikan Inklusif Lewat Riset

British Council menggandeng KONEKIN melakukan riset akses belajar bahasa Inggris bagi anak muda marjinal dan difabel di Bandung dan Bali.

Akses terhadap pembelajaran bahasa Inggris berkualitas dinilai masih belum merata, terutama bagi kelompok muda marjinal dan penyandang disabilitas. Kesenjangan antara keinginan belajar dan ketersediaan sumber belajar yang aksesibel menjadi perhatian utama.

British Council bekerja sama dengan KONEKIN, firma riset sosial, untuk meneliti akses pembelajaran bahasa Inggris di kalangan muda marjinal dan difabel di Bandung dan Bali. Riset ini bertujuan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih inklusif.

Country Director Indonesia British Council, Summer Xia, menyatakan bahwa temuan riset ini mendorong peninjauan kembali pendekatan dan perancangan program bahasa Inggris yang memberdayakan komunitas marjinal. Program tersebut diharapkan membekali mereka dengan keterampilan untuk mengakses peluang kerja dan keterlibatan global.

CEO KONEKIN, Marthella Rivera Roidatua, memimpin studi yang berupaya memahami kebutuhan, motivasi, dan aspirasi kelompok masyarakat yang sering terabaikan. Studi dilakukan di Bandung dan Bali dengan konteks yang berbeda.

Riset ini menemukan bahwa, meskipun kemampuan berbahasa Inggris dianggap penting, akses terhadap pembelajaran berkualitas masih belum merata. Beberapa hambatan utama meliputi:

  • Kesenjangan antara keinginan belajar dan ketersediaan sumber belajar yang aksesibel.
  • Hambatan infrastruktur, sosial, dan ekonomi.
  • Minimnya tenaga pengajar yang kompeten untuk pendidikan inklusif.
  • Fasilitas belajar yang tidak ramah difabel.
  • Keterbatasan finansial peserta didik.

Studi ini juga mencatat bahwa kelompok muda marjinal dan difabel menginginkan modul pembelajaran yang praktis, fleksibel, dan berbasis teknologi, yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu.

Rekomendasi Kebijakan

Temuan riset ini menjadi sinyal bagi pemangku kebijakan untuk merancang pendekatan pembelajaran yang lebih adaptif dan personal.

Acara diseminasi hasil riset menghadirkan perwakilan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Hak Asasi Manusia, akademisi, organisasi penyandang disabilitas, dan sektor swasta.

Forum tersebut dirancang untuk memvalidasi temuan riset dan merumuskan rekomendasi konkret yang dapat dijadikan landasan kebijakan dan program ke depan.

Kegiatan diakhiri dengan diskusi panel tentang pembentukan jalur kolaborasi lintas sektor untuk mendorong inisiatif pelatihan bahasa Inggris yang terukur dan berkelanjutan. British Council berkomitmen untuk bersinergi dengan mitra dalam menerjemahkan rekomendasi riset menjadi aksi nyata.

Recommended