Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengidentifikasi sebanyak 1,5 miliar anomali trafik di jaringan internet nasional pada periode 1 Januari hingga 15 April 2026. Data ini menunjukkan tren ancaman siber yang terus membayangi infrastruktur digital Indonesia di sepanjang tahun berjalan.
Dilansir dari Detik iNET, Deputi Bidang Operasi Keamanan Siber dan Sandi BSSN, Mayjen TNI Bondan Widiawan, menyampaikan temuan tersebut dalam acara R17 Podcast Show Vol.4 di Jakarta pada Kamis (23/4/2026). Lonjakan aktivitas mencurigakan ini menjadi kelanjutan dari tren peningkatan anomali yang mencapai puncaknya pada tahun lalu.
BSSN mencatat bahwa sepanjang tahun 2025, volume anomali trafik di Indonesia menembus angka 5,5 miliar. Jumlah tersebut melampaui total akumulasi anomali trafik dari gabungan periode empat tahun sebelumnya, yakni dari tahun 2020 hingga 2024.
"Datanya 5,5 miliar anomali trafik. Ini sudah mendominasi data dari dijumlahkan di 2020 sampai 2024, itu kalah sama satu tahun. Dan, kemungkinan data ini di 2026 akan terus meningkat," ujar Mayjen TNI Bondan Widiawan, Deputi Bidang Operasi Keamanan Siber dan Sandi BSSN.
Anomali trafik merupakan pola lalu lintas data yang tidak wajar, seperti lonjakan akses mendadak atau upaya masuk sistem tanpa izin yang menjadi indikasi serangan siber. Berdasarkan analisis BSSN, sebagian besar anomali yang terdeteksi merupakan aktivitas malware yang memerlukan metode penanganan modern.
Sepanjang tahun 2025, BSSN telah mengirimkan 2.855 notifikasi peringatan keamanan, di mana 2.186 di antaranya mendapatkan respons. Sementara pada 2026, lembaga ini telah mengeluarkan 1.002 notifikasi dengan tingkat respons sebanyak 776 laporan hingga pertengahan April.
Bondan menegaskan perlunya penguatan regulasi melalui Rancangan Undang-Undang Keamanan dan Ketahanan Siber untuk meningkatkan tata kelola dan efektivitas respons terhadap ancaman. Saat ini, BSSN tidak memiliki kewenangan lebih lanjut jika notifikasi yang diberikan tidak ditindaklanjuti oleh pihak terkait.