BSSN Ungkap Tren Serangan Siber Melalui Protokol HTTPS di Jakarta

Deputi BSSN menjelaskan kerentanan port HTTPS dan penggunaan teknik steganografi dalam pola serangan siber terbaru di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) membeberkan evolusi pola serangan siber yang kini mampu menembus sistem keamanan protokol HTTPS di Jakarta pada Kamis (23/4/2026). Deputi Bidang Operasi Keamanan Siber dan Sandi BSSN, Mayjen TNI Bondan Widiawan, menyebut peretas kini mengeksploitasi jalur umum yang sebelumnya dianggap aman.

Dilansir dari Detik iNET, sejumlah kasus peretasan terbaru ditemukan masuk melalui port 443 yang berbasis HTTPS. Meskipun jalur tersebut telah dilengkapi protokol keamanan SSL/TLS, dalam praktiknya sistem pertahanan tetap dapat ditembus oleh pelaku kejahatan siber.

Bondan Widiawan menjelaskan bahwa teknik serangan saat ini menjadi jauh lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Selain menargetkan port yang lemah seperti port 80, peretas sering menggunakan teknik injeksi untuk masuk ke dalam sistem pertahanan informasi.

Pemanfaatan sistem profiling juga menjadi ancaman serius karena mempermudah eksploitasi data pribadi. Melalui satu unggahan foto, pelaku dapat melacak identitas, lokasi kediaman, hingga informasi sensitif lainnya milik target serangan.

"Dari sebuah foto saja, kita bisa mengetahui identitas seseorang, lokasi rumah, dan informasi lainnya," ujar Mayjen TNI Bondan Widiawan, Deputi Bidang Operasi Keamanan Siber dan Sandi BSSN.

Selain teknik injeksi, BSSN menyoroti penggunaan steganografi, yaitu metode penyembunyian data di dalam berkas media seperti audio atau video. Metode ini serupa dengan teknik yang pernah digunakan dalam kebocoran dokumen WikiLeaks oleh Julian Assange.

Dalam skema tersebut, data sensitif disisipkan ke dalam file lagu dengan memodifikasi unit kecil data digital. Perubahan ini dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak dapat dideteksi secara kasat mata oleh pengguna maupun sistem keamanan standar.

Kelemahan sistem kriptografi asimetris yang banyak digunakan saat ini juga menjadi perhatian BSSN. Sistem tersebut dinilai tidak lagi memadai untuk menghadapi perkembangan komputasi modern yang memiliki daya komputasi sangat tinggi.

Sebagai langkah antisipasi, BSSN mendorong berbagai sektor untuk segera bermigrasi ke teknologi keamanan yang lebih mutakhir. Rekomendasi tersebut mencakup penerapan post-quantum cryptography guna memperkuat perlindungan data dari ancaman masa depan.

Lembaga negara tersebut juga menyarankan implementasi konsep zero trust security untuk membatasi ruang gerak serangan di dalam jaringan. Penguatan sistem keamanan dan kesiapan menghadapi ancaman siber kini menjadi kebutuhan mendesak bagi seluruh sektor di Indonesia.

Recommended