Perum Bulog berencana membangun 100 unit gudang modern sebagai bagian dari upaya penguatan infrastruktur pasca panen di Indonesia. Proyek strategis ini mengalokasikan dana sebesar Rp5 triliun. Kapasitas penyimpanan gudang-gudang baru tersebut akan bervariasi, mulai dari 1.000 ton hingga 3.500 ton per unit, seperti dilansir dari Detik Finance.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa dari total anggaran Rp5 triliun, sebagian besar, yakni Rp4,4 triliun, akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur utama. Sementara itu, sekitar Rp0,56 triliun telah dialokasikan secara spesifik untuk modernisasi melalui mekanisasi, otomatisasi, dan pengembangan sistem teknologi informasi (IT).
“Yang paling kecil kapasitasnya 1.000 ton. Kemudian yang paling besar 3.500 ton dan untuk lokasinya berada di 92 kabupaten,” ungkap Rizal usai mengikuti rapat koordinasi di Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, pada Rabu (1/4/2026).
Sebelum memulai proses pembangunan, Bulog akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk melakukan studi kelayakan. Keterlibatan ini mencakup kerja sama dengan perguruan tinggi dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang bertujuan untuk memastikan proyek berjalan sesuai standar terbaik.
Lokasi pembangunan gudang menjadi salah satu aspek krusial yang mendapat perhatian khusus. Rizal menekankan pentingnya memilih lokasi dengan kemiringan tanah maksimal 5 derajat untuk menjamin aksesibilitas truk-truk besar. Selain itu, lokasi gudang juga harus berdekatan dengan sentra-sentra produksi pangan dan memiliki akses jalan yang memadai.
“Kan harus kita cek dulu soil test tanah tersebut. Sehingga soil test tanah tersebut kira-kira layak atau tidak untuk dibangun gudang-gudang bulog ataupun infrastruktur pasca panen. Kemudian juga kondisi kemiringan tanah. Kemiringan tanah juga harus maksimal 3 sampai 5 derajat,” tambah Rizal, menggarisbawahi pentingnya pengujian tanah.
Pembangunan gudang akan disesuaikan dengan tipologi masing-masing wilayah. Rizal menjelaskan bahwa desain dan fasilitas gudang di wilayah kepulauan akan berbeda dengan yang berada di sentra produksi. Di wilayah kepulauan yang tidak memiliki persawahan, Bulog hanya akan membangun fasilitas penyimpanan komoditas pangan.
Sebaliknya, di wilayah sentra produksi, gudang akan dilengkapi dengan fasilitas yang lebih lengkap. Fasilitas tersebut mencakup pengeringan, unit penggilingan padi (rice milling unit/RMU), bahkan hingga unit pengolahan dan pengemasan beras secara modern.
Rizal juga merinci rencana pembangunan lainnya. “Dalam proses nanti kami bangun, kami ya untuk sarana penyimpanan gudang, kami gudang 94 unit, silo gabah 6 unit, silo jagung 8 unit. Kalau silo itu untuk menyimpan gabah, silo gabah. Silo jagung itu untuk menyimpan jagung, supaya lebih tahan lama kalau pakai silo,” terang Rizal.
Ia menambahkan bahwa beberapa fasilitas pengolahan beras di sentra produksi akan menerapkan sistem mekanisasi dan otomatisasi canggih. Hal ini bertujuan agar kualitas dan efisiensi fasilitas milik negara dapat bersaing dengan pabrik swasta terkemuka, mencerminkan transformasi teknologi yang sedang digencarkan Bulog.