Gen Z Makin Sering Gunakan AI untuk Mencari Informasi

Generasi Z kini lebih sering menggunakan AI seperti Chat GPT untuk mencari informasi di internet, mencapai lebih dari 70%.

Penggunaan artificial intelligence (AI) di kalangan generasi muda semakin meluas, tidak hanya sebagai alat bantu kerja, tetapi juga sebagai mesin pencarian alternatif.

Hanif Fakhrurroja, Ketua Pusat Riset Mekatronika Cerdas Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyoroti fenomena ini. Generasi Z, menurutnya, kini banyak mengandalkan AI untuk mencari informasi di internet.

Berbeda dengan pencarian konvensional melalui mesin pencari seperti Google, AI menawarkan pengalaman yang berbeda. "Bahkan di kalangan generasi muda, khususnya generasi Z, lebih dari 70 persen dari mereka menggunakan AI untuk mencari informasi," kata Hanif.

Salah satu faktor yang mendorong adopsi AI sebagai mesin pencarian adalah adanya referensi sumber yang jelas. Informasi yang diringkas oleh AI seperti Chat GPT selalu menyertakan sumbernya, sehingga memudahkan validasi.

Peningkatan pemanfaatan AI oleh Gen Z menandakan bahwa AI bukan lagi sekadar alat eksperimental. AI telah menjadi gerbang baru bagi publik, khususnya generasi muda, untuk memahami dunia melalui kemampuannya mencari informasi, merangkum peristiwa, dan menjelaskan isu kompleks.

Sebelumnya, pemerintah telah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tujuh Menteri tentang Pedoman Pemanfaatan dan Pembelajaran Teknologi Digital dan Kecerdasan Artifisial di Jalur Pendidikan Formal, Nonformal, dan Informal.

SKB tersebut ditandatangani oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Choiri Fauzi, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji, serta Menteri Agama Nasaruddin Umar.

Pemerintah juga berencana membatasi penggunaan AI instan, terutama di kalangan pendidikan dasar dan menengah. "Misalnya, pendidikan dasar dan menengah itu tidak diperbolehkan untuk memanfaatkan AI-AI instant misalnya tanya ke GPT dan seterusnya," kata Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Pratikno, usai penandatangan kesepakatan bersama di Kantor Kemenko PMK dikutip dari tayangan YouTube Metro TV, Jumat, 13 Maret 2026.

Namun, Pratikno menekankan bahwa pembatasan ini bukan berarti larangan total. Pemerintah tetap mendukung pemanfaatan AI yang dirancang khusus untuk mendukung pendidikan. "Jadi bukannya dilarang, tidak, kareka kita butuh memanfatkan teknologi itu untuk penduduk pendukung pendidikan," tutur dia.

Recommended