Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran di pasar keuangan Asia. Sentimen negatif ini dipicu oleh ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menyerang pembangkit listrik Iran, yang dibalas dengan ancaman serupa oleh Teheran terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa infrastruktur energi dan minyak di seluruh wilayah akan menjadi target yang sah jika AS menyerang. "Infrastruktur penting serta infrastruktur energi dan minyak di seluruh wilayah akan dianggap sebagai target yang sah dan akan dihancurkan secara permanen, dan harga minyak akan naik dalam waktu yang lama," kata Mohammad Bagher Ghalibaf, dikutip dari CNBC, Senin (23/3/2026).
Selain itu, Ghalibaf juga mengancam akan menargetkan lembaga keuangan yang mendanai militer AS melalui pembelian obligasi pemerintah. Ancaman ini meningkatkan potensi krisis minyak dunia yang berkepanjangan.
Pada perdagangan Senin (23/3/2026), harga minyak mentah Brent mencapai US$ 111,97 per barel pada pukul 19.16 EST, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 97,64 per barel.
Chris Verrone, kepala ahli strategi pasar Strategas Research, melihat selisih harga antara minyak mentah Brent dan WTI sebagai indikasi puncak intensitas krisis minyak. Kenaikan harga Brent juga mendorong perkiraan pelaku pasar tentang durasi konflik Timur Tengah.
Akibatnya, bursa Asia mengalami penurunan tajam. Indeks Nikkei 225 Jepang anjlok hampir 5%, sementara indeks Topix melemah 4,4%. Indeks Kopsi Korea Selatan juga merosot lebih dari 6%, dan indeks Kosqad turun hampir 5%. Beberapa bursa Korea Selatan bahkan sempat menghentikan perdagangan setelah penurunan lebih dari 5%.
Indeks S&P/ASX 200 Australia tercatat melemah 2,4%, sementara indeks Hang Seng Hong Kong dan CSI 300 masing-masing turun hampir 2%. Saham berjangka pada indeks Dow Jones Industrial Average datar, S&P 500 terkoreksi 0,1%, dan harga saham berjangka Nasdaq Composite turun 0,2%.
Tiga indeks utama AS mengakhiri perdagangan pekan lalu dengan koreksi. S&P 500 turun lebih dari 1,5%, jatuh di bawah rata-rata pergerakan 200 hari untuk pertama kalinya sejak Mei. Dow Jones mengalami penurunan beruntun selama empat minggu pertama sejak 2023, dan Nasdaq turun sekitar 2% sepanjang pekan lalu.