Fisikawan David Gross Prediksi Peluang Hidup Manusia Sisa 50 Tahun

Fisikawan Nobel David Gross memperingatkan risiko perang nuklir meningkat dua kali lipat dan mengancam keberlangsungan umat manusia dalam 50 tahun ke depan.

Fisikawan pemenang Nobel, David Gross, memberikan peringatan keras mengenai potensi kepunahan umat manusia dalam kurun waktu 50 tahun ke depan akibat meningkatnya risiko perang nuklir global pada Minggu (19/4/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Gross dalam wawancara dengan Live Science setelah menerima penghargaan Special Breakthrough Prize in Fundamental Physics. Dilansir dari Detik iNET, Gross menilai probabilitas terjadinya konflik nuklir saat ini mencapai dua persen per tahun.

Angka risiko ini menunjukkan kenaikan signifikan hingga dua kali lipat jika dibandingkan dengan era Perang Dingin yang hanya berada di level satu persen. Gross menghitung bahwa rata-rata waktu sebelum perang nuklir terjadi kini hanya berkisar 35 tahun.

Kondisi geopolitik yang kian memanas di berbagai wilayah menjadi landasan kekhawatiran tersebut. Ia menyoroti ketegangan di Eropa, Timur Tengah, serta potensi eskalasi antara India dan Pakistan sebagai faktor pemicu utama keretakan keamanan global.

Sembilan negara yang kini memiliki senjata nuklir dinilai membuat tata dunia semakin kompleks dibandingkan masa lalu. Gross menyatakan bahwa runtuhnya berbagai perjanjian internasional dan hilangnya norma diplomatik memicu perlombaan senjata yang sulit dikendalikan.

Kecerdasan buatan atau AI juga diprediksi dapat memperburuk situasi karena potensi sistem otomatis dalam mengambil keputusan peluncuran senjata secara mandiri. Kecepatan respons mesin yang melampaui kemampuan berpikir manusia dianggap sebagai risiko fatal dalam krisis militer.

"Jawabannya adalah mereka bunuh diri sendiri," ujar David Gross, Fisikawan Nobel, saat mengaitkan prediksinya dengan Fermi Paradox mengenai mengapa manusia belum menemukan peradaban cerdas lain di alam semesta.

Meskipun pesimistis terhadap isu nuklir, Gross masih melihat adanya harapan dalam penanganan perubahan iklim. Menurutnya, dampak aktivitas manusia terhadap iklim masih dapat dikendalikan melalui kebijakan politik dan tindakan nyata dibandingkan ancaman pemusnahan massal lewat senjata nuklir.

Recommended