Kemacetan panjang yang kerap terjadi di lintasan penyeberangan Pelabuhan Ketapang-Pelabuhan Gilimanuk menjadi sorotan. Penambahan infrastruktur dermaga dianggap sebagai solusi untuk mengatasi masalah ini.
Bambang Haryo Soekartono, Anggota Komisi VII DPR RI, menekankan pentingnya lintasan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk sebagai jalur strategis nasional yang padat. Antrean panjang, menurutnya, dapat berdampak negatif pada perekonomian.
Angkutan logistik menjadi sektor yang perlu diperhatikan selama arus mudik dan libur Lebaran, mengingat jalur ini menghubungkan Bali sebagai destinasi wisata utama. Pertumbuhan pariwisata dan logistik saling terkait, sehingga perlu adanya antisipasi terhadap keterbatasan dermaga yang menghambat peningkatan jumlah trip kapal.
"Angkutan logistik selalu berdampingan dengan pertumbuhan pariwisata. Ketika pariwisata tumbuh, maka logistik juga pasti tumbuh. Ini membutuhkan antisipasi, sementara saat ini pertumbuhan jumlah trip kapal tidak meningkat karena adanya keterbatasan dermaga," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (20/3/2026).
Bambang Haryo Soekartono juga mendesak agar segera dilakukan penambahan infrastruktur dermaga. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas angkut penumpang dan barang.
"Ini sudah waktunya untuk segera membangun minimal dua unit dermaga, sehingga dermaga tersebut dapat menampung kapal-kapal yang saat ini masih menganggur, yang jumlahnya di atas 20 kapal. Dengan penambahan tersebut, kapal-kapal yang sebelumnya off atau tidak beroperasi, dapat dimanfaatkan untuk masuk ke dalam jadwal dan memperkuat kapasitas angkut, kurang lebih 30%. Hal ini menjadi langkah antisipasi jangka panjang, baik untuk pariwisata maupun penunjangnya, yaitu logistik," katanya.
Ketersediaan logistik di wilayah pariwisata harus terjamin agar tidak terjadi kenaikan harga akibat kelangkaan. Hambatan kemacetan yang mencapai lebih dari 10 jam berpotensi memicu inflasi dan menghambat pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, kelancaran distribusi logistik menjadi krusial.
Peningkatan kebutuhan logistik selama musim liburan harus diantisipasi agar wisatawan domestik dan internasional tidak mengalami kelangkaan barang di wilayah pariwisata. Kecukupan logistik, makanan, dan minuman harus diprioritaskan selama arus mudik dan libur Lebaran.
Untuk sementara waktu, operasional kapal dapat dilakukan dengan pola nonjadwal sesuai target pemerintah. Proses tiba, bongkar muat, hingga keberangkatan perlu dipercepat dengan target standar waktu yang ditetapkan sesuai ukuran kapal. Langkah ini penting untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan selama periode libur.
"Kebutuhan barang, khususnya makanan-minuman pasti akan sangat meningkat seiring pertumbuhan pariwisata yang berbarengan dengan momentum mudik dan libur Lebaran, sehingga distribusi logistik harus benar-benar harus diantisipasi, agar tidak terjadi kelangkaan," tuturnya.