Desa Sukamantri Bogor Tembus Pasar Ekspor Tanaman Hias Nasional

Desa Sukamantri di Bogor sukses memperluas pasar ekspor tanaman hias hingga ke tingkat nasional melalui program pemberdayaan Desa BRILian.

Kawasan lereng perbukitan kaki Gunung Salak menjadi saksi kemandirian ekonomi Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Desa seluas 638 hektare ini bertransformasi menjadi sentra tanaman hias yang sukses menembus pasar internasional.

Seperti dilaporkan oleh Detik Finance, perjalanan menuju desa yang berdiri sejak 1978 ini memerlukan waktu sekitar 30 menit berkendara dari Stasiun Bogor. Aktivitas pelayanan warga dan penyambutan tamu tetap berjalan sibuk di bawah cuaca terik.

Sentra tanaman hias unggulan terletak sekitar 1 hingga 1,5 kilometer dari kantor desa. Akses jalanan desa yang rapi dapat ditempuh dalam waktu 5 hingga 10 menit menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Di pusat pembibitan dan gerai penjualan, jenis tanaman seperti Anthurium Kuping Gajah, Philodendron, hingga Aglaonema tumbuh subur. Geliat budidaya ini semakin melonjak sejak pandemi COVID-19 pada tahun 2020 lalu.

Potensi besar tersebut kemudian dioptimalkan oleh BUMDes Bersama Muda Sejahtera. Pihak BUMDes memberikan pelatihan budidaya dengan mendatangkan berbagai narasumber kompeten agar para petani bisa lebih berkembang.

"BUMDes punya program untuk pelatihan terkait untuk budidaya tanaman di Bumdes. Kita datangkan narasumber. Untuk pelatihan, BUMDes mendatangkan dan alhamdulillah mereka semua sudah mandiri sekarang," tutur Kaur Keuangan Desa Sukamantri, Sudrajat.

Akselerasi Melalui Program Desa BRILian

Keberhasilan menembus pasar ekspor membuat Desa Sukamantri terpilih mengikuti program Desa BRILian dari BRI. Program ini bertujuan memberdayakan desa unggulan agar menjadi percontohan pembangunan ekonomi nasional.

Kaur TU dan Umum Desa Sukamantri, Nur Amalia, mengungkapkan bahwa aktivitas ekspor tanaman hias sebenarnya sudah berjalan sebelum program ini dimulai. Namun, kehadiran program pemberdayaan tersebut memberikan nilai tambah yang signifikan.

"Kalau untuk tanaman hias, sebelum kami ikut Desa BRILian pun sudah ekspor. Dan mungkin dengan ikutan Desa BRILian ini lebih banyak lagi mungkin," kata Nur Amalia.

Sudrajat menjelaskan bahwa BRI menerapkan penilaian khusus untuk mendongkrak potensi lokal yang sudah berjalan. Langkah ini membantu mengatasi kesulitan desa dalam mengeksplorasi potensi internal mereka.

"Biasanya kan selama ini desa punya produk unggulan yang memang sudah berjalan, sudah melewati proses pemberdayaan, cuma memang desa masih kesulitan untuk mengeksplor potensi yang ada," ujar Sudrajat.

Dampak Penguatan Modal dan Popularitas Nasional

Dampak kepesertaan ini membuat popularitas Desa Sukamantri meluas ke tingkat nasional, setelah sebelumnya hanya dikenal oleh wilayah sekitar. Selain tanaman hias, perekonomian warga disokong oleh pabrik tahu, peternakan kambing, agen gas, agen BRILink, hingga ayam petelur.

"Nah lewat BRILian ini Desa Sukamantri yang awalnya hanya dikenal di lingkup wilayah terdekat, sekarang kan lingkup nasional pun sudah bisa tahu lah informasi terkait desa Sukamantri," ujar Sudrajat.

"Terus setelah itu mereka mengeksplor ke beberapa tempat yang memang sudah ada. Sekarang nasional pun sudah tahu lewat program Desa BRILian itu," tutur Nur Amalia.

Desa Sukamantri menempati peringkat 15 dalam batch ketiga program Desa BRILian tahun 2024. Hadiah penghargaan langsung dialokasikan ke rekening BUMDes untuk memperkuat modal usaha.

"Kita tambahkan ke modal pengembangan usaha yang ada di BUMDes. Karena memang anggarannya pun langsung masuk ke rekening BUMDes," ujar Sudrajat.

Para petani turut merasakan manfaat nyata berupa distribusi perlengkapan penunjang dari BUMDes. Bantuan fisik ini membantu operasional harian di area perkebunan.

"Kalau BUMDES ngebantula. Ngebantu, ngebantu banget. Ini dari desa gitu. Ini jaring-jaring ini," ujar Jaelani, salah satu pekerja di sentra tanaman hias, sembari menunjuk jaring paranet bantuan.

Recommended