Para pakar forensik gambar dilaporkan mulai menggunakan prinsip hukum fisika mengenai cahaya dan perspektif untuk mengidentifikasi keaslian foto di tengah masifnya teknologi generator AI pada Sabtu (9/5/2026). Langkah ini diambil karena model kecerdasan buatan modern dinilai masih gagal memahami aturan geometri dasar dunia nyata.
Dilansir dari Detik iNET, sebuah studi dalam jurnal Science mengungkapkan bahwa meskipun visual AI semakin mulus, model di baliknya tetap buta terhadap cara kerja cahaya. Kelemahan fundamental tersebut menjadi celah bagi peneliti untuk memverifikasi apakah sebuah gambar merupakan hasil rekayasa mesin atau jepretan kamera asli.
Profesor dari UC Berkeley, Hany Farid, yang merupakan pelopor forensik digital, menegaskan bahwa model pembuat gambar AI belum mempelajari konsep titik hilang secara akurat. Penegasan ini didasari pada temuan bahwa garis-garis sejajar dalam gambar AI sering kali tidak bertemu pada satu titik temu yang konsisten secara matematis.
Kagagalan AI dalam menerapkan hukum fisika terlihat jelas pada elemen pantulan dan bayangan matahari. Pada gambar buatan AI, arah pantulan pada cermin atau genangan air sering kali miring dan tidak sejajar jika diukur menggunakan garis lurus yang menghubungkan objek asli dengan pantulannya.
"Model pembuat gambar AI belum mempelajari pelajaran paling dasar dari kelas seni mana pun: titik hilang," kata Hany Farid, Profesor dari UC Berkeley. Fenomena ini juga terjadi pada bayangan matahari yang seharusnya memiliki titik hilang presisi karena arah sinar yang sejajar saat mencapai Bumi.
Para peneliti juga mengingatkan publik untuk tidak bergantung sepenuhnya pada perangkat lunak deteksi otomatis. Hal ini disebabkan alat deteksi sering mengalami kebingungan saat menganalisis gambar dengan gaya visual yang berada di luar dataset pelatihannya, sehingga pemeriksaan manual terhadap hukum fisika tetap diperlukan.
Ketiadaan kesalahan fisik seperti bayangan yang logis dan geometri yang akurat kini menjadi indikator terkuat orisinalitas sebuah foto. Dalam era gempuran deepfake, para ahli menyimpulkan bahwa memverifikasi foto asli saat ini jauh lebih menantang daripada sekadar menangkap bukti kepalsuan pada gambar AI.