DreamWorks dan FIFA Manfaatkan AI dalam Operasi

DreamWorks manfaatkan AI permudah proses produksi film, FIFA gunakan AI untuk pengalaman imersif penggemar.

Kecerdasan buatan (AI) kini menjadi bagian inti dari operasional perusahaan, bukan lagi sekadar eksperimen. Hal ini memengaruhi daya saing di era perkembangan teknologi yang pesat.

Dalam panel diskusi bertajuk The Race for Enterprise AI di Lenovo Tech World 26 Hong Kong, para pemimpin industri berbagi pandangan tentang perubahan signifikan yang mereka lakukan dari proyek percontohan menuju penerapan skala perusahaan.

David Rabin, Chief Marketing Officer Lenovo Solutions and Services Group, yang menjadi moderator diskusi, menyampaikan bahwa sekitar 60% perusahaan global telah berhasil melewati tahap proof-of-concept (PoC) dan masuk ke tahap implementasi aktual. Ia memperingatkan bahwa waktu untuk mengejar ketertinggalan semakin sempit.

Kate Swanborg, SVP Technology Communications DreamWorks Animation, menjelaskan bahwa awalnya industri kreatif berhati-hati karena sangat menghargai peran seniman dan aktor. Namun, berkat kolaborasi dengan AI Center of Excellence Lenovo, DreamWorks kini menerapkan AI pada inisiatif yang ditargetkan.

Dengan data mencapai 40 petabyte dan lebih dari setengah miliar file per film, kompleksitas digital menjadi tantangan utama DreamWorks. Swanborg menekankan bahwa AI tidak digunakan untuk menghasilkan gambar, tetapi untuk mempermudah seniman menemukan kembali data lama agar proses produksi lebih cepat. "Kami melihat ROI (Return on Investment) mencapai ratusan ribu dolar per film melalui investasi AI yang ditargetkan ini," ungkapnya.

Peran AI dalam FIFA

Sementara itu, Romy Gai, Chief Business Officer FIFA, menyoroti peran AI dalam mengelola skala besar Piala Dunia mendatang yang diperkirakan akan melibatkan 6 miliar orang. Perubahan model organisasi FIFA, di mana mereka kini mengelola seluruh operasi secara langsung tanpa perantara lokal, menjadikan teknologi sebagai tulang punggung yang krusial.

Gai menekankan pentingnya demokratisasi teknologi. Sebagai organisasi non-profit, FIFA bertujuan memastikan bahwa teknologi AI yang mereka kembangkan bersama Lenovo dapat diakses oleh 211 federasi anggotanya, termasuk yang kecil tanpa sumber daya memadai. "AI sangat penting untuk menjangkau penonton lebih cepat dan memberikan pengalaman yang imersif bagi generasi muda yang haus akan data secara real-time," kata Gai.

Tata Kelola AI yang Baik

Menutup diskusi, Gordon Orr, Board Director Lenovo dan mantan Chairman McKinsey Asia, menekankan pentingnya tata kelola (governance) sebelum perusahaan berinvestasi besar dalam AI.

Orr menyarankan agar dewan direksi memiliki Dashboard AI yang jelas untuk mengukur dampak teknologi terhadap transformasi bisnis. Ia juga menekankan perlunya strategi dua arah: dari bawah ke atas untuk membangun antusiasme karyawan, dan dari atas ke bawah untuk mewujudkan visi perusahaan dalam tiga tahun mendatang.

Recommended