Kegagalan David’s Sling Picu Pertanyaan, Ini Alasannya

Mengapa sistem pertahanan udara David's Sling masih digunakan meski beberapa kali gagal mencegat ancaman? Berikut penjelasannya.

Serangan terhadap kota Dimona dan Arad menyoroti kerentanan sistem pertahanan udara Israel. Sekitar dua lusin insiden menyebabkan warga Israel tewas atau terluka akibat ancaman udara dari Iran atau Hizbullah. Kegagalan sistem David's Sling atau Ketapel Nabi Daud menjadi perhatian khusus dalam insiden tersebut.

Banyak warga Israel terluka akibat kegagalan David's Sling. Lantas, mengapa sistem ini tetap diandalkan?

Israel menggunakan tiga lapisan sistem pertahanan: Iron Dome, David's Sling, dan Arrow. Arrow dirancang untuk menembak rudal balistik jarak jauh seperti yang ditembakkan Iran. Iron Dome bertugas menghadapi ancaman jarak pendek, seperti roket sederhana dan drone. David's Sling dirancang untuk melumpuhkan ancaman jarak menengah, termasuk roket jarak menengah, rudal jelajah, dan drone yang lebih kompleks.

Setelah berhasil menjatuhkan rudal balistik Iran pada Juni 2025, David's Sling diintegrasikan ke dalam sistem pertahanan Israel untuk melumpuhkan ancaman rudal balistik jarak jauh sebagai opsi tambahan selain Arrow. Selain itu, biaya operasional David's Sling juga lebih ekonomis.

Namun, performa David's Sling menurun drastis pada akhir pekan lalu. Ran Kochav, mantan Komandan Pertahanan Udara IDF, mengemukakan beberapa alasan yang mungkin menjelaskan kegagalan tersebut.

Kochav menjelaskan bahwa komandan Israel harus membuat keputusan secara real time mengenai pencegat mana yang paling cocok untuk ancaman tertentu. Keputusan ini melibatkan pemilihan antara sistem seperti Arrow, THAAD, atau Iron Dome, untuk menghindari penggunaan rudal mahal untuk target yang tidak sesuai.

Keputusan menggunakan David's Sling, yang satu tingkat di bawah Arrow, untuk mencegat rudal balistik berpotensi meningkatkan risiko kegagalan, meskipun pernah berhasil sebelumnya. Selain itu, kerusakan teknis pada sistem radar pelacak, pencegat, atau masalah konektivitas antar sistem pertahanan juga dapat menjadi penyebabnya.

Kochav menambahkan bahwa meskipun David's Sling adalah sistem canggih, ia tidak sempurna. Bahkan ketika semua berjalan sesuai rencana, kejadian tak terduga atau faktor keberuntungan dapat menyebabkan kegagalan. Sistem Arrow pun pernah gagal mencegat rudal Iran karena tingkat keberhasilannya tidak pernah mencapai 100%.

David's Sling mencegat ancaman udara pada ketinggian yang lebih rendah dibandingkan Arrow 3, yang mencegat rudal di luar angkasa. Karena pencegatan terjadi lebih dekat ke permukaan tanah, risiko penyebaran serpihan peluru menjadi lebih tinggi.

Jerusalem Post melaporkan bahwa Iran menggunakan 50 hingga 70 persen munisi tandan (bom klaster) dalam rudalnya, yang mengandung puluhan sub bom yang menyebar ke area yang luas.

Produksi rudal pencegat baru, seperti Arrow, membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun. Bahkan jika Israel mencoba mempercepat pengembangan lebih banyak pencegat Arrow, produksinya mungkin belum siap tepat waktu.

Recommended