Ekonom Pesimis Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2026 Capai Target

Sejumlah ekonom memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 di bawah target pemerintah, dipengaruhi Lebaran dan inflasi.

Sejumlah ekonom menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 yang berbeda dengan target pemerintah. Pemerintah sebelumnya menargetkan pertumbuhan ekonomi di angka 5,5-6% pada periode tersebut.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto masih optimistis angka 5,5% dapat tercapai. Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan memperkirakan pertumbuhan bisa mencapai 5,6-5,7%.

Purbaya menjelaskan, "Untuk angka-angka terakhir sih pertumbuhan ekonomi bisa 5,6-5,7% kalau perkiraan kasar ya. Itu sudah lumayan bagus lah di tengah gejolak global." Pernyataan ini disampaikan di Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta Selatan, Sabtu (21/3/2026).

Namun, Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad justru berpendapat pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I 2026 tidak akan setinggi target pemerintah, yaitu hanya 5,4% atau sedikit di bawah target.

Menurut Tauhid, perkiraan ini didasarkan pada pelaksanaan Hari Raya Lebaran yang dinilai tidak seramai tahun-tahun sebelumnya, sehingga dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi terbatas.

"Menurut saya kuartal I pertumbuhan ekonomi kita paling tinggi itu 5,4%. Tentu akan ada daya dorong. Daya dorongnya itu berkaitan dengan Hari Raya Lebaran dan kemarin puasa. Tetapi kalau kita lihat pada fenomena akhir-akhir ini kan ada penurunan sedikit. Terutama untuk Lebaran ini daripada tahun lalu," kata Tauhid kepada detikcom, Rabu (25/3/2026).

Tauhid menambahkan, "Sehingga konsumsi yang diharapkan lebih tinggi ternyata tidak bisa lebih besar dari seharusnya, itu yang mendorong kenapa agak sedikit menurun dibanding tahun lalu. Sehingga dongkrak untuk ekonominya tidak terlampau tinggi."

Tauhid menjelaskan bahwa belanja pemerintah yang ekspansif, terutama pada program-program prioritas dan bantuan sosial, dinilai cukup untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendorong ekonomi hingga 5,4%.

"Yang mendorong ekonomi kita agak tinggi 5,4% ya ekspansi fiskalnya masih berjalan. Bantuan sosial, MBG, dan sebagainya itu untuk mempertahankan daya beli masyarakat," terangnya.

Selain itu, dampak dari bencana Sumatera pada akhir 2025 lalu masih terasa pada kuartal II 2026. Awal tahun ini, gerak ekonomi di wilayah terdampak masih dalam tahap revitalisasi, sehingga belum berjalan normal dan mempengaruhi rata-rata nasional.

Tauhid menambahkan, "Tiga provinsi itu pengaruh, tetapi pengaruhnya tidak sebesar kalau itu terjadi di Jawa. Tapi pengaruh, itu saya kira itu juga mempengaruhi kenapa pertumbuhan ekonomi kita tidak tumbuh 5,5% ke atas."

"Saya kira pertumbuhan mungkin di Aceh yang paling rendah nanti. Di Aceh terutama karena kan wilayah yang masih terdampak parah dibandingkan provinsi terdampak lain," lanjutnya.

Inflasi yang cukup tinggi juga membuat konsumsi masyarakat sedikit tertahan selama puasa dan Lebaran, sehingga dorongan ekonomi dari peristiwa ini tidak maksimal seperti tahun-tahun sebelumnya.

Tauhid menegaskan, "Tetapi yang membuat tidak tumbuh lebih tinggi daripada perkiraan pemerintah, sebenarnya fenomena konsumsi agak sedikit tertahan karena inflasi tinggi. Terutama oleh fenomena kenaikan harga-harga menjelang hari raya maupun puasa di beberapa komponen kebutuhan pokok."

Sementara itu, Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2026 hanya 5,05%, jauh di bawah target pemerintah. Kondisi ini disebabkan pelaksanaan Lebaran yang jauh di bawah tahun-tahun sebelumnya.

"Idealnya bisa diatas 5,05%. Tapi ada beberapa tantangan yang menghambat konsumsi rumah tangga. Pertama, banyak yang siapkan THR untuk ditabung, bukan dibelanjakan karena ada kekhawatiran naiknya harga energi dan pangan pasca Lebaran," ujarnya.

Bhima juga menyoroti penciptaan lapangan kerja di kota yang terbatas, terlihat dari jumlah arus balik yang tidak seramai biasanya, serta inflasi yang cukup tinggi pada awal tahun.

Bhima menjelaskan, "Arus balik yang belum optimal karena lapangan kerja di kota terbatas, biasanya pencari kerja ikut ke kota. Pengendalian inflasi pra dan paska mudik sehingga thr dapat lebih optimal dibelanjakan. Penciptaan lapangan kerja mendesak agar jumlah pemudik tumbuh lebih tinggi dan berkualitas."

Recommended