Aktivitas Pekerja IMIP Sumbang Perputaran Ekonomi Rp5,9 Triliun per Tahun

Perputaran ekonomi di kawasan IMIP Morowali mencapai Rp5,9 triliun per tahun berkat tingginya konsumsi harian tenaga kerja usia produktif.

Aktivitas konsumsi harian tenaga kerja di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah, tercatat memicu perputaran ekonomi hingga Rp5,9 triliun per tahun berdasarkan data survei internal yang dirilis pada Mei 2026.

Tingginya daya beli ini didominasi oleh kelompok pekerja usia produktif antara 26 hingga 35 tahun yang menetap di wilayah Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali. Kelompok ini mencakup 56,4 persen dari total populasi pekerja di kawasan industri nikel tersebut.

Dilansir dari Medcom, hasil riset Research and Support Departemen Secretariat General Affair PT IMIP menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran bulanan setiap pekerja mencapai Rp2,19 juta untuk kebutuhan konsumsi makanan dan minuman.

Secara agregat, pengeluaran rutin para karyawan tersebut menyentuh angka Rp492 miliar per bulan. Sektor kuliner menjadi penopang utama ekonomi masyarakat lokal dengan 98,4 persen responden mengalokasikan dana mereka pada sektor ini setiap hari.

Dampak ekonomi ini juga memicu pertumbuhan masif Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang kini berjumlah 7.643 unit di Bahodopi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 78 persen merupakan usaha mikro dan 22 persen sisanya adalah usaha kecil.

Selain kebutuhan pangan, sektor jasa transportasi dan hunian juga mengalami peningkatan signifikan karena 82,6 persen pekerja memilih tinggal di rumah kos. Rata-rata biaya sewa hunian di kawasan tersebut tercatat sebesar Rp1,26 juta per bulan.

Survei tersebut mengungkap fakta bahwa 57 persen karyawan lebih memilih berbelanja di warung atau kios lokal daripada toko modern. Kedekatan lokasi dan hubungan sosial dengan penjual menjadi alasan utama tingginya preferensi belanja pada pedagang setempat.

Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Sulawesi Tengah menyarankan perlunya penguatan pada sektor perdagangan, jasa logistik, dan konstruksi di sekitar kawasan industri. Langkah ini bertujuan agar distribusi manfaat ekonomi dapat menjangkau masyarakat lebih luas.

"Langkah ini bertujuan membantu memperluas distribusi manfaat ekonomi dari aktivitas industri. Selain itu, dapat membantu menciptakan lebih banyak kesempatan kerja bagi masyarakat lokal," tulis pihak Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah dalam keterangan resminya.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Sulteng, Andi Irman, menyatakan pemerintah daerah berkomitmen meningkatkan iklim investasi yang kondusif. Koordinasi antara pusat dan daerah terus diperkuat untuk mendukung kebijakan hilirisasi industri.

"Selain pengelolaan potensi fiskal daerah, pemerintah mendukung kebijakan hilirisasi industri untuk memberikan nilai tambah komoditas daerah," ujar Andi Irman terkait upaya menjaga stabilitas ekonomi wilayah tersebut.

Recommended