Sektor Manufaktur Indonesia Bertahan di Zona Ekspansi Kuartal I 2026

Sektor manufaktur Indonesia tetap ekspansif pada kuartal I-2026 meski indeks Maret menurun ke level 50,1 akibat tekanan pasokan bahan baku impor.

Sektor manufaktur Indonesia konsisten berada di zona ekspansi sepanjang kuartal I-2026 meskipun tercatat adanya tren penurunan indeks pada bulan Maret akibat kendala pasokan bahan baku. Kondisi ekonomi nasional ini dilaporkan pada Sabtu (2/5/2026) dengan sorotan utama pada ketergantungan industri terhadap permintaan domestik.

Data Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur dari S&P Global menunjukkan angka 50,1 pada Maret 2026, turun signifikan dibandingkan bulan Februari yang mencapai 53,8. Dilansir dari Detik Finance, penurunan ini dipicu oleh kelangkaan bahan baku dan kenaikan harga material akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Bank Indonesia mencatat kinerja Lapangan Usaha Industri Pengolahan pada triwulan pertama tahun ini berada di angka 52,03 persen. Capaian ini terpantau lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 51,86 persen, didorong oleh volume persediaan barang jadi dan total pesanan.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menjelaskan bahwa permintaan domestik menjadi pendorong utama pertumbuhan dengan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,11 persen. Penjualan ritel juga memberikan kontribusi positif dengan pertumbuhan sebesar 6,49 persen di tengah gejolak pasar global.

"Pemerintah perlu mengejar dua agenda sekaligus, yaitu menjaga ekspansi manufaktur tetap hidup dan memperbaiki kualitasnya," kata Syafruddin Karimi, Ekonom Universitas Andalas. Ia menegaskan pentingnya substitusi input impor dan peningkatan ekspor bernilai tambah agar industri lebih tahan terhadap gejolak.

Sektor-sektor yang mengalami tekanan terbesar pada akhir kuartal adalah industri otomotif, elektronik, tekstil, kimia, dan sektor padat energi. Sebaliknya, industri makanan dan minuman tetap menguat karena momentum musiman bulan Ramadan dan Idulfitri yang mendongkrak aktivitas ekonomi.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, memperingatkan bahwa mesin manufaktur Indonesia saat ini belum didukung oleh permintaan global yang solid. Pelemahan ekspor yang terjadi sejak awal tahun menunjukkan bahwa fondasi ekspansi saat ini masih rentan jika daya beli domestik menurun.

Pemerintah kini didorong untuk memfokuskan kebijakan pada penguatan sisi eksternal melalui kerja sama dagang internasional guna mengurangi ketergantungan pada satu mesin pertumbuhan. Langkah tersebut dinilai krusial untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan gangguan rantai pasok yang masih berlangsung.

Recommended