Miliarder sekaligus orang terkaya di dunia, Elon Musk, menyatakan pendapatnya bahwa kekayaan materi dalam jumlah besar tidak secara otomatis mendatangkan kebahagiaan melalui unggahan di media sosial X pada Kamis, 5 Februari 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan Musk di tengah posisinya sebagai individu pertama dengan kekayaan melampaui USD 800 miliar atau setara lebih dari Rp 13.802 triliun. Dilansir dari Detik iNET, lonjakan harta ini terjadi pasca aksi korporasi SpaceX yang bergabung dengan perusahaan kecerdasan buatan miliknya, xAI.
"Siapa pun yang mengatakan 'uang tidak bisa membeli kebahagiaan' benar-benar tahu apa yang mereka bicarakan," tulis Elon Musk, Pemilik X dan CEO Tesla, dalam unggahan yang menyertakan emoji wajah sedih.
Unggahan tersebut memicu reaksi dari berbagai tokoh finansial, termasuk investor miliarder Mark Cuban yang memberikan perspektif berbeda mengenai hubungan antara uang dan kondisi psikologis seseorang.
Menurut Mark Cuban, uang memiliki peran penting dalam mengurangi tekanan hidup, namun tidak memiliki kemampuan untuk memperbaiki masalah internal atau karakter dasar individu tersebut.
"Jika Anda bahagia saat miskin, Anda akan sangat bahagia jika menjadi kaya. Jika Anda sengsara, Anda akan tetap sengsara, hanya saja dengan tekanan finansial yang jauh lebih sedikit," ujar Mark Cuban, Investor Miliarder.
Perspektif Cuban ini didasarkan pada pandangannya bahwa uang berfungsi sebagai penghilang stres finansial, bukan sebagai obat untuk memperbaiki mentalitas yang sudah rusak sebelumnya.
Meski kerap bersilang pendapat secara terbuka, Cuban pernah menyatakan rasa hormatnya terhadap keberanian Musk dalam mengambil risiko bisnis besar menggunakan modal pribadi untuk mendanai perusahaan rintisan.
Hingga saat ini, Elon Musk masih mempertahankan posisinya sebagai orang terkaya nomor satu di dunia dengan pertumbuhan nilai aset yang didorong oleh integrasi teknologi kecerdasan buatan dan sektor antariksa.