Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berkolaborasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melakukan pemetaan bendungan di seluruh Indonesia untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung pada Selasa, 21 April 2026.
Upaya ini menargetkan pemanfaatan 20 persen dari total luasan bendungan milik Kementerian PU sebagai lokasi instalasi panel surya. Dilansir dari Detik Finance, langkah strategis tersebut diproyeksikan mampu menambah kapasitas listrik nasional hingga lebih dari 15 Gigawatt (GW).
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa pemetaan ini merupakan bagian dari upaya mengejar target ambisius kapasitas terpasang PLTS nasional sebesar 100 GW. Pemerintah menetapkan tenggat waktu pencapaian target tersebut paling lambat pada tahun 2029 mendatang.
"Target ambisius ini diharapkan tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas energi, tetapi juga pada penciptaan permintaan (demand creation) yang dapat menggerakkan industri energi surya di dalam negeri," ujar Eniya Listiani Dewi dalam acara peluncuran 1 GW PLTS Atap Indonesia.
Data saat ini menunjukkan kapasitas terpasang PLTS di Indonesia baru menyentuh angka 1,5 GW. Sektor PLTS atap mendominasi capaian tersebut dengan kontribusi sebesar 895 Megawatt (MW), sementara sisanya berasal dari model pembangunan lainnya.
Pemerintah kini sedang mendorong diversifikasi implementasi teknologi surya agar tidak hanya terpaku pada pembangunan di atas tanah atau ground mounted. Fokus utama saat ini mencakup akselerasi pada instalasi di atap bangunan serta pengembangan teknologi PLTS terapung di area perairan bendungan.