Pelatih PSIM Yogyakarta, Jean-Paul van Gastel, menyoroti lemahnya koordinasi bola mati dan kurangnya urgensi pemain menjelang laga tandang melawan Bhayangkara FC pada Jumat (17/4/2026). Masalah internal ini menjadi fokus utama perbaikan tim berjulukan Laskar Mataram tersebut guna memutus tren negatif di kompetisi domestik.
Kelemahan dalam mengantisipasi skema bola mati dinilai menjadi penyebab utama penurunan performa tim dalam beberapa laga terakhir. Dilansir dari Bola, Van Gastel menyebut para pemainnya sering tampil terlalu santai saat melakukan penjagaan terhadap lawan di area pertahanan.
"Ya, kami melakukan penjagaan satu lawan satu (man marking). Seperti yang saya katakan salah satu masalah kami adalah kurangnya urgensi, terlalu santai, dan menjaga lawan tanpa rasa kewajiban," kata Jean-Paul van Gastel, Pelatih PSIM Yogyakarta.
Juru taktik asal Belanda tersebut menambahkan bahwa dirinya merindukan kegigihan anak asuhnya dalam berbagai aspek permainan. Selain masalah pertahanan, PSIM juga menghadapi tantangan besar saat bertemu lawan yang menerapkan strategi bertahan total atau low block.
Van Gastel membandingkan kesulitan timnya dengan klub besar seperti Liverpool yang juga kerap kesulitan membongkar pertahanan rapat. Menurutnya, bermain melawan tim dengan pertahanan rendah merupakan tantangan universal dalam sepak bola modern, baik di Liga Inggris maupun di Indonesia.
Pertandingan pekan ke-28 yang akan berlangsung di Stadion Sumpah Pemuda, Lampung, menjadi momentum krusial bagi Tim Naga Jawa. PSIM tercatat belum meraih kemenangan dalam empat pertandingan terakhirnya di putaran kedua musim ini.
Data statistik menunjukkan performa PSIM merosot tajam pada paruh musim dengan hanya membukukan satu kemenangan dari 10 laga terakhir. Saat ini, PSIM tertahan di peringkat kesembilan klasemen sementara dengan koleksi 38 poin, terpaut enam angka dari Bhayangkara FC yang berada di posisi kelima.