Sistem pembayaran tol di Indonesia terus berkembang. Awalnya menggunakan uang tunai, kini beralih ke sistem elektronik (e-toll) sebagai standar di seluruh ruas tol.
Ke depannya, sistem Multi Lane Free Flow (MLFF) akan diterapkan untuk mempercepat transaksi, mengurangi antrean, dan meningkatkan efisiensi.
Bagaimana perjalanan sistem pembayaran tol di Indonesia dari tunai hingga rencana MLFF?
Tol pertama di Indonesia adalah Tol Jagorawi, yang menghubungkan Jakarta, Bogor, dan Ciawi, dibangun pada tahun 1978. Jalan tol Jagorawi memiliki panjang 59 km, termasuk jalan akses.
Perubahan Sistem Pembayaran
Sebelum e-toll, pembayaran dilakukan tunai ke petugas di gerbang tol. Pengguna mengambil tiket saat masuk dan membayar tunai saat keluar.
Oktober 2017, seluruh gerbang tol di Indonesia resmi menggunakan kartu tol secara serempak dan tidak lagi menerima pembayaran tunai. Pemerintah mengklaim penggunaan kartu dapat mempersingkat waktu transaksi dari 7-8 detik menjadi 2-3 detik.
Transisi ke uang elektronik merupakan hal baru bagi masyarakat. PT Jasa Marga (Persero) Tbk menyatakan elektrifikasi berdampak pada 1.351 penjaga gerbang tol.
Pegawai yang terdampak diberikan pilihan untuk pindah menjadi staf di kantor pusat atau cabang, menjadi pegawai di anak usaha, menjadi wiraswasta di rest area, atau pensiun dini.
Pengguna tol diharapkan memastikan kecukupan saldo uang elektronik sebelum perjalanan dan melakukan top up melalui ATM, layanan mobile, atau jaringan toko ritel.
Rencana Penerapan MLFF
Pemerintah sedang menyiapkan sistem pembayaran baru, MLFF, untuk menggantikan uang elektronik. Sistem ini memungkinkan kendaraan melintas tanpa berhenti di gerbang tol, sehingga tidak terjadi antrean.
Proyek MLFF pertama kali dibahas pada 2021 dan telah mengalami beberapa kali penundaan implementasi. Uji coba telah dilakukan di Tol Bali Mandara pada akhir Desember 2023, namun belum ada kabar lanjutan.
MLFF masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) terbaru berdasarkan Peraturan Menteri Koordinator (Permenko) Bidang Perekonomian Nomor 16 Tahun 2025.
Proyek ini dimenangkan oleh Roatex Ltd Zrt dari Hungaria, yang dikerjakan oleh anak perusahaan, PT Roatex Indonesia Toll System (RITS). Dana pengembangan MLFF berasal dari anggaran negara Hungaria melalui RITS sebesar US$ 300 juta atau Rp 4,4 triliun.
Implementasi MLFF telah molor lebih dari tiga tahun dari target awal 2022, akibat masalah internal di RITS dan uji coba yang belum berhasil.