ExxonMobil Tingkatkan Produksi Minyak Banyu Urip 156 Persen

ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) berhasil meningkatkan produksi minyak di Sumur Banyu Urip A07 sebesar 7.500 barel per hari.

ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) mencatat peningkatan signifikan dalam produksi minyak dari Sumur Banyu Urip A07. Hal ini berkat keberhasilan program Water Shut-Off (WSO) yang bertujuan mengurangi aliran air yang tidak diinginkan di dalam sumur, sehingga produksi minyak dapat dimaksimalkan.

Keberhasilan ini tidak hanya meningkatkan produksi minyak secara signifikan, tetapi juga menghadirkan efisiensi dalam hal waktu dan biaya operasional.

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyatakan bahwa perawatan sumur ini berdampak positif pada peningkatan produksi minyak. Sumur Banyu Urip A07 mengalami lonjakan produksi dari 4.800 barel minyak per hari (BOPD) menjadi 12.300 BOPD. Artinya, ada peningkatan sebesar 7.500 BOPD, jauh melampaui target awal yang hanya 1.000 BOPD.

"Tambahan produksi ini memberikan kontribusi langsung terhadap peningkatan lifting minyak nasional," kata Djoko dalam keterangan tertulis, Kamis (5/3/2026).

Lapangan Banyu Urip di Cepu, Jawa Tengah, memiliki peran penting sebagai tulang punggung produksi minyak nasional. Dengan demikian, setiap tambahan produksi dari lapangan ini memberikan dampak strategis dalam menjaga stabilitas pasokan dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Djoko menjelaskan bahwa program WSO dilakukan untuk menghentikan aliran air yang tidak diinginkan dari zona bawah sumur. Tujuannya adalah agar sumur dapat menghasilkan proporsi minyak yang lebih tinggi dan mengoptimalkan potensi produksinya. Metode yang diterapkan meliputi pemasangan bridge plug, re-perforation, serta stimulasi acidizing.

Pendekatan teknologi ini dinilai efektif dalam mengoptimalkan potensi sumur eksisting tanpa perlu melakukan pengeboran baru. Hasilnya, tambahan produksi dapat diperoleh lebih cepat dan dengan biaya yang lebih efisien.

"Keberhasilan ini menunjukkan bahwa intervensi teknologi yang tepat dapat memberikan peningkatan produksi yang signifikan dalam waktu relatif singkat. Ini adalah bukti bahwa optimalisasi sumur eksisting dapat secara langsung mendorong peningkatan lifting minyak nasional," ujarnya.

Efisiensi menjadi nilai tambah penting dalam program ini. Secara operasional, pekerjaan dilakukan tanpa menggunakan rig (rigless operation) dengan memanfaatkan unit wireline, sehingga pelaksanaan menjadi lebih cepat dan ekonomis. Realisasi biaya tercatat sekitar 57 persen dari total anggaran yang disetujui.

"Keberhasilan Well Services Sumur Banyu Urip A07 ini menegaskan bahwa strategi optimalisasi sumur eksisting merupakan langkah konkret dan cost-effective dalam menjaga momentum peningkatan lifting minyak nasional. Keberhasilan ini akan menjadi pembelajaran bagi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang lain untuk dapat menerapkan teknologi secara tepat dalam upaya peningkatan produksinya. Dengan inovasi teknologi yang tepat, sektor hulu migas mampu menghadirkan tambahan produksi secara berkelanjutan demi memperkuat ketahanan dan ketersediaan energi Indonesia," tutupnya.

Recommended