Fast Retailing, perusahaan induk di balik merek fesyen global Uniqlo, melaporkan peningkatan kinerja keuangan yang signifikan sepanjang paruh pertama tahun fiskal 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh strategi ekspansi global yang agresif dan tingginya permintaan untuk produk fesyen kasualnya, seperti dilansir dari Medcom.
Hasil positif ini mendorong perusahaan untuk merevisi naik proyeksi kinerja tahunan, memperkuat keyakinan terhadap potensi pertumbuhan jangka panjang. Bahkan, saham perusahaan ini melonjak lebih dari 9 persen, mencapai rekor tertinggi setelah pengumuman tersebut, seperti dikutip dari CNBC.
Laporan keuangan interim Fast Retailing menunjukkan pencapaian pendapatan sebesar 2,0552 triliun yen, setara sekitar Rp 220,83 triliun (dengan asumsi kurs Rp 107,44 per yen), untuk periode enam bulan yang berakhir pada 28 Februari 2026. Angka ini merefleksikan pertumbuhan 14,8 persen secara tahunan.
Sejalan dengan kenaikan pendapatan, laba operasional perusahaan meningkat tajam sebesar 31,7 persen, mencapai 400,6 miliar yen atau sekitar Rp 43,04 triliun. Sementara itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat 279,2 miliar yen, naik 19,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba usaha juga mengalami kenaikan 28,3 persen secara tahunan, mencapai 386,9 miliar yen atau sekitar Rp 41,56 triliun. Margin laba operasional perusahaan mencapai 19,5 persen, meningkat 2,5 poin persentase, menandai rekor kinerja terbaik dalam sejarah perusahaan untuk semester pertama.
Uniqlo International Jadi Motor Utama
Pertumbuhan Fast Retailing sebagian besar disumbangkan oleh performa gemilang segmen Uniqlo International. Unit ini mencatatkan pendapatan 1,2413 triliun yen, atau sekitar Rp 133,36 triliun, yang merupakan kenaikan 22,4 persen dari tahun sebelumnya.
Laba usaha segmen Uniqlo International juga melonjak 37,4 persen menjadi 233 miliar yen (sekitar Rp 25,03 triliun). Perusahaan menyatakan bahwa seluruh wilayah operasional, termasuk China Raya, Asia Tenggara, Korea Selatan, serta pasar Barat seperti Amerika Utara dan Eropa, menunjukkan peningkatan penjualan dan laba dua digit.
Di China daratan, strategi penyesuaian produk dengan kondisi cuaca dan momentum penjualan Imlek menjadi pendorong utama. Produk seperti bawahan, sweatshirt, dan pakaian musim semi sangat diminati. Sementara itu, di Korea Selatan, pertumbuhan didukung oleh pemanfaatan kanal digital dan minat konsumen muda terhadap merek Uniqlo.
Kawasan Asia Tenggara, India, dan Australia juga mencatat pertumbuhan berkat penguatan stok musim dingin dan penjualan produk musim semi-musim panas seperti kemeja linen dan rajutan. Ekspansi toko flagship dan toko berformat besar secara global juga berperan penting dalam memperkuat posisi merek.
Kinerja Domestik dan Segmen Lain
Di pasar domestik, Uniqlo Jepang meraih pendapatan 581,7 miliar yen (sekitar Rp 62,51 triliun), tumbuh 7,4 persen. Laba usaha meningkat 13,4 persen menjadi 110,7 miliar yen atau sekitar Rp 11,89 triliun, didukung oleh peningkatan penjualan toko sejenis sebesar 6,5 persen.
Namun, pelemahan nilai tukar yen berdampak pada biaya penjualan, menekan margin laba kotor Uniqlo Jepang. Segmen GU juga mencatat kinerja stabil dengan pendapatan 168,4 miliar yen (sekitar Rp 18,09 triliun), naik 1,6 persen, sementara laba usaha melonjak 20,1 persen karena efisiensi operasional dan fokus pada item penjualan tinggi.
Di sisi lain, segmen Global Brands menghadapi tekanan, dengan pendapatan turun 7,5 persen menjadi 62,7 miliar yen (sekitar Rp 6,74 triliun) dan mencatat kerugian usaha 0,7 miliar yen atau sekitar Rp 75,2 miliar. Penurunan ini disebabkan oleh melemahnya bisnis merek Theory di Amerika Serikat dan dampak dari penutupan outlet e-commerce.
Revisi Proyeksi dan Faktor Eksternal
Melihat kinerja semester pertama yang melampaui ekspektasi, Fast Retailing merevisi naik proyeksi untuk tahun fiskal 2026. Perusahaan kini memperkirakan pendapatan tahunan mencapai 3,9 triliun yen (sekitar Rp 418,99 triliun), laba operasional 700 miliar yen (sekitar Rp 75,21 triliun), dan laba bersih 480 miliar yen (sekitar Rp 51,57 triliun).
Revisi ini didorong oleh kinerja semester pertama yang lebih kuat, prospek penjualan semester kedua yang membaik, dan penyesuaian asumsi nilai tukar yen yang melemah. Chief Executive Officer Fast Retailing, Tadashi Yanai, juga menyampaikan keyakinannya terhadap "pertumbuhan signifikan ke depan," melihat potensi ekspansi global yang masih luas.
Meskipun demikian, Fast Retailing juga menghadapi tantangan dari faktor eksternal, seperti konflik di Timur Tengah yang mengakibatkan kenaikan biaya transportasi di beberapa pasar. Namun, perusahaan menegaskan bahwa langkah-langkah penyesuaian produksi dan logistik telah dilakukan untuk meredam risiko dan dampak tersebut telah diperhitungkan dalam proyeksi tahunan.
Untuk sisa tahun fiskal 2026, Uniqlo International diperkirakan tetap menjadi motor utama pertumbuhan. Dividen tahunan juga diproyeksikan meningkat menjadi 640 yen per saham, atau sekitar Rp 68.761, mencerminkan kepercayaan perusahaan terhadap arus kas dan kinerja keuangan berkelanjutan.