Filipina Pangkas Jam Kerja Kantor Jadi 4 Hari

Pemerintah Filipina mengurangi jam kerja kantor menjadi empat hari sebagai upaya menghemat energi akibat ketegangan di Timur Tengah.

Pemerintah Filipina mengambil langkah untuk mengurangi jam kerja kantor menjadi empat hari. Kebijakan ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya harga bahan bakar global akibat ketegangan yang terjadi di Timur Tengah.

Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr., menyatakan bahwa pengurangan jam kerja ini bersifat sementara. Namun, kebijakan ini tidak berlaku bagi pelayanan darurat seperti kepolisian, pemadam kebakaran, dan lembaga garda depan lainnya. Ia juga menginstruksikan seluruh lembaga pemerintah untuk memangkas penggunaan listrik dan biaya bahan bakar sebesar 10-20%.

Marcos juga menambahkan, "Semua perjalanan dan kegiatan pemerintah yang tidak penting untuk sementara dilarang, termasuk studi banding, team building, atau pertemuan yang dapat dilakukan secara daring," seperti dikutip dari Bloomberg, Sabtu (7/3/2026).

Filipina, sebagai negara pengimpor hampir seluruh kebutuhan minyaknya, akan terkena dampak dari konflik yang memanas di Iran. Kondisi ini berpotensi memicu inflasi yang telah mencapai level tertinggi dalam 13 bulan pada Februari.

Marcos menyampaikan, "Saudara-saudaraku, kita tidak tahu kapan kekacauan di Timur Tengah akan berakhir. Kita adalah korban perang yang tidak kita pilih dan tidak kita inginkan. Kita tidak dapat mengendalikan perang, tetapi kita dapat mengendalikan bagaimana kita akan melindungi rakyat Filipina."

Para ekonom secara luas memandang Filipina sebagai salah satu negara di kawasan Asia-Pasifik yang paling rentan terhadap inflasi dan risiko pertumbuhan akibat konflik di Timur Tengah.

Menurut Deepali Bhargava, Kepala Riset Regional di ING Bank NV, Filipina cenderung mengalami dampak inflasi yang lebih kuat karena harga bahan bakar ritel lebih didorong oleh pasar dan subsidi yang terbatas.

Kamar Dagang dan Industri Filipina (PCCI) memperingatkan bahwa pengurangan jam kerja menjadi empat hari dapat berdampak signifikan pada industri manufaktur, yang merupakan pilar utama perekonomian.

Presiden Kamar Dagang Filipina, Perry Ferrer, mengatakan, "Kita telah beroperasi dengan sumber daya yang terbatas dan pengurangan lebih lanjut jumlah hari kerja dapat mempengaruhi komitmen kita."

Recommended