Film fiksi ilmiah sering kali diasosiasikan dengan teknologi canggih dan studio besar. Namun, film Indonesia berjudul "Pelangi di Mars" menawarkan pendekatan modern dengan mengimplementasikan teknologi Unreal Engine dan virtual production.
Menariknya, penguasaan teknologi ini diperoleh secara otodidak. Upie Guava, sang sutradara, belajar secara mandiri melalui internet.
"Saya belajar Unreal Engine sendiri dari YouTube," kata Upie.
Unreal Engine, yang dikenal sebagai game engine, awalnya dirancang untuk pembuatan video game. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, teknologi ini semakin banyak digunakan dalam industri film karena kemampuannya menghasilkan visual secara real time.
Popularitas metode produksi ini meningkat setelah digunakan dalam serial The Mandalorian. Serial ini memanfaatkan layar LED raksasa untuk menampilkan lingkungan digital langsung di lokasi syuting.
Dengan pendekatan ini, sutradara dapat melihat latar virtual secara langsung saat kamera merekam adegan. Hal ini berbeda dengan metode green screen tradisional yang diproses pada tahap pascaproduksi.
Ketertarikan Upie terhadap teknologi ini muncul sekitar tahun 2020. Saat itu, ia melihat virtual production sebagai cara baru untuk memperluas kemungkinan visual dalam produksi film.
Meskipun tanpa latar belakang animasi atau efek visual, Upie mencoba mempelajari teknologi tersebut secara mandiri. Ia mencoba memahaminya selangkah demi selangkah.
"Awalnya sangat sederhana. Tapi saya terus memaksakan diri untuk menggunakannya," ujarnya.
Awalnya, Unreal Engine hanya ia gunakan untuk eksperimen dalam berbagai proyek videoclip yang ia kerjakan.
Menurut Upie, video musik sering menjadi ruang eksplorasi kreatif yang paling fleksibel dalam industri audiovisual.
"Music video adalah ruang inkubasi kreatif yang ideal," kata jebolan Universitas Trisakti ini.
Dalam proyek-proyek tersebut, ia mencoba berbagai pendekatan visual baru sambil mempelajari cara kerja Unreal Engine.
Proses belajar ini memakan waktu sekitar dua tahun. Selama itu, ia terus bereksperimen dan mencoba berbagai alur kerja produksi yang berbeda.
"Ada banyak trial and error," ujarnya.
Namun, dari proses tersebut, tim produksinya mulai memahami bagaimana teknologi game engine dapat digunakan untuk produksi film.
Pada tahun 2023, mereka akhirnya memutuskan membangun studio virtual production sendiri di Jakarta sebagai bagian dari proses pembuatan Pelangi di Mars.
Salah satu keunggulan utama teknologi ini adalah kemampuan rendering secara real time. Artinya, sutradara dan tim produksi dapat langsung melihat hasil visual yang mendekati final saat proses pengambilan gambar berlangsung.
Hal ini memberi kebebasan kreatif yang lebih besar bagi sutradara untuk bereksperimen dengan komposisi gambar, pencahayaan, dan pergerakan kamera.
Selain itu, virtual production juga membantu mengontrol biaya produksi film. Banyak faktor yang biasanya membuat produksi film menjadi mahal, seperti lokasi syuting, cuaca, hingga transportasi.
Dengan teknologi ini, berbagai lokasi dapat dibuat secara digital di dalam studio.
Bagi Upie, tujuan mempelajari teknologi baru sebenarnya sederhana: memberikan ruang yang lebih luas bagi kreativitas.
"Saya tidak belajar teknologi untuk terlihat canggih. Saya belajar teknologi supaya proses berkarya bisa lebih bebas," ujar pria 49 tahun ini.