Ilmuwan Temukan Fosil Gurita Purba Berukuran 19 Meter di Pasifik

Analisis fosil rahang mengungkap keberadaan gurita raksasa sepanjang 19 meter yang menjadi predator puncak pada zaman dinosaurus 100 juta tahun lalu.

Tim peneliti internasional mengumumkan penemuan bukti keberadaan gurita raksasa sepanjang 19 meter yang hidup berdampingan dengan dinosaurus pada periode Kapur (Cretaceous) sekitar 100 juta tahun lalu. Temuan yang dipublikasikan di jurnal Science pada April 2026 ini didasarkan pada analisis mendalam terhadap fosil rahang yang ditemukan di Jepang dan Kanada.

Analisis terhadap 27 fosil rahang gurita purba menunjukkan bahwa hewan tak bertulang belakang ini memiliki ukuran yang menyaingi reptil laut karnivora besar lainnya seperti mosasaurus. Penemuan ini mengubah persepsi mengenai hierarki predator di lautan purba yang sebelumnya dianggap hanya didominasi oleh vertebrata bertulang kuat.

Dilansir dari Detik iNET, para ilmuwan menggunakan teknik digital fossil mining untuk memindai penampang batuan guna mengungkap fosil tersembunyi yang sulit dideteksi secara manual. Melalui perbandingan dengan gurita modern, panjang tubuh makhluk ini diperkirakan berkisar antara 7 hingga 19 meter.

"Kraken ini pasti menjadi pemandangan sangat menakutkan," ujar Adiel Klompmaker, ahli paleontologi dari University of Alabama. Meskipun bertubuh lunak, gurita ini memiliki paruh kaku yang terbuat dari kitin yang cukup kuat untuk menghancurkan cangkang mangsa.

Yasuhiro Iba, ahli paleontologi dari Hokkaido University, menjelaskan bahwa fosil rahang terbesar yang ditemukan jauh melebihi ukuran rahang gurita modern mana pun. Data penelitian menunjukkan adanya tanda-tanda keausan signifikan seperti goresan dan cuilan pada rahang tersebut akibat aktivitas menghancurkan mangsa yang keras.

Para ahli mencatat bahwa gurita ini kemungkinan besar menangkap mangsa menggunakan delapan lengan fleksibelnya sebelum merobek jaringan menggunakan paruh tajam. Namun, tantangan utama dalam penelitian ini adalah minimnya bukti fosil tubuh lunak yang tidak terawetkan dengan baik dibandingkan bagian rahang yang keras.

Neil Landman dari American Museum of Natural History menekankan pentingnya pencarian fosil gurita di lokasi lain untuk melengkapi potongan sejarah ekosistem laut. Saat ini, para peneliti terus berupaya mengidentifikasi apakah gurita raksasa ini bersaing secara langsung dengan hiu purba dan plesiosaurus dalam memperebutkan sumber makanan di jaring makanan purba.

Recommended