Gubernur BI Sebut Tekanan Global Picu Pelemahan Rupiah

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan pelemahan Rupiah dipicu faktor global meski fundamental ekonomi nasional tetap kokoh pada Mei 2026.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan bahwa fluktuasi nilai tukar Rupiah saat ini bukan disebabkan oleh pelemahan kondisi domestik, melainkan akibat tekanan faktor eksternal global. Pernyataan tersebut disampaikan Perry dalam konferensi pers Hasil Rapat Berkala KSSK II Tahun 2026 di Jakarta pada Kamis (7/5/2026).

Perry menjelaskan bahwa fondasi ekonomi Indonesia tetap berada pada posisi yang kuat di tengah ketidakpastian pasar internasional. Berdasarkan data yang dilansir dari Detik Finance, pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I-2026 tercatat menyentuh angka 5,61 persen.

Capaian pertumbuhan tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan performa ekonomi tertinggi di antara anggota G20. Indikator kesehatan ekonomi lainnya juga ditunjukkan melalui laju inflasi yang terkendali pada level 2,42 persen serta surplus pada neraca perdagangan.

"Jadi secara indikator itu fundamental ekonomi kita itu kuat. Nah pertanyaannya kok ada pelemahan Rupiah? Ya, itu faktor global," kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia. Ia merinci bahwa kenaikan harga minyak mentah dan eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama.

Selain masalah geopolitik, penguatan dolar Amerika Serikat didorong oleh kenaikan suku bunga AS yang mencapai 4,41 persen. Kondisi ini memicu fenomena arus modal keluar (outflow) dari investor asing yang beralih dari negara-negara berkembang (emerging markets) kembali ke pasar Amerika Serikat.

Di samping pengaruh global, BI juga mengidentifikasi adanya siklus musiman yang meningkatkan permintaan valuta asing (valas) di dalam negeri sepanjang April dan Mei. Kebutuhan masyarakat untuk pelaksanaan ibadah umrah dan haji menjadi salah satu faktor pendorong permintaan dolar AS yang cukup signifikan.

Faktor musiman lainnya berasal dari aktivitas korporasi yang biasanya melakukan repatriasi dividen ke luar negeri pada periode tersebut. Banyak perusahaan juga terpantau melakukan pembayaran bunga serta pokok utang luar negeri yang jatuh tempo pada kuartal kedua tahun ini.

Recommended