Raksasa mode global H&M mengumumkan rencana penutupan 160 tokonya di seluruh dunia pada tahun 2026. Langkah strategis ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk meningkatkan fokus pada platform e-commerce serta mengoptimalkan operasional gerai fisik yang paling menguntungkan.
Sebelumnya, H&M telah mengurangi jumlah lokasinya dengan menutup 163 gerai di berbagai negara. Pergeseran strategis ini menuju belanja daring dan investasi pada lokasi-lokasi yang memberikan profitabilitas tinggi telah memengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Dilansir dari Detik Finance, H&M melaporkan sedikit penurunan laba pada kuartal I-2026 akibat penyesuaian jumlah toko yang lebih sedikit.
“Optimalisasi portofolio toko telah berdampak agak negatif pada penjualan kuartal I-2026 karena penutupan dan pembangunan kembali toko,” demikian pernyataan H&M dalam laporan pendapatan mereka. Meskipun demikian, efek positif dari optimalisasi toko terhadap penjualan secara keseluruhan diperkirakan akan mulai terasa sepanjang tahun 2026.
Optimalisasi ini ditujukan untuk mencapai keuntungan yang lebih tinggi sembari memangkas biaya terkait karyawan. Saat ini, penjualan online telah menjadi kontributor signifikan, menyumbang 30% dari total pendapatan H&M.
Para pengamat industri ritel melihat penutupan 160 lokasi ini sebagai indikasi tren yang lebih luas. Dominick Miserandino, CEO Retail Tech Media Nexus, menyatakan bahwa perilaku konsumen telah berubah. “Pembeli lebih berorientasi pada nilai, lebih banyak berbelanja online, dan kurang loyal terhadap toko fisik tradisional,” ujarnya.
Transformasi ini mencerminkan dinamika pasar ritel yang terus berkembang, di mana perusahaan besar seperti H&M beradaptasi dengan preferensi konsumen yang beralih ke saluran digital dan mencari pengalaman berbelanja yang berbeda.