Hacker Korea Utara Targetkan Software Axios untuk Curi Data Login

Peretas Korea Utara menargetkan software open source Axios untuk mencuri informasi login, sebuah langkah awal dalam operasi siber yang lebih besar.

Google telah mengungkapkan adanya dugaan serangan siber yang menargetkan perangkat lunak back-end Axios, dilakukan oleh kelompok peretas yang terafiliasi dengan Korea Utara. Tujuan utama dari serangan ini adalah untuk mendapatkan informasi login yang dapat dimanfaatkan sebagai langkah awal dalam operasi siber yang lebih luas, seperti dilaporkan oleh Google pada Selasa (31/3/2026), dikutip dari Detik iNET.

Para peretas menyusup ke dalam Axios, sebuah program esensial yang menghubungkan berbagai aplikasi dan layanan web, dengan menyuntikkan perangkat lunak berbahaya. Perangkat lunak ilegal ini ditambahkan ke dalam pembaruan yang dirilis pada Senin. Informasi mengenai insiden ini, yang terungkap pada Selasa pagi, didapatkan dari Google dan peneliti siber independen.

Tom Hegel, seorang peneliti senior di SentinelOne, menjelaskan pentingnya Axios dalam ekosistem digital. "Setiap kali Anda memuat situs web, memeriksa saldo bank Anda, atau membuka aplikasi di ponsel Anda, ada kemungkinan besar Axios berjalan di suatu tempat di latar belakang untuk menjalankan proses tersebut," tuturnya.

Perangkat lunak berbahaya yang telah dihapus tersebut memungkinkan peretas untuk memperoleh akses ke data komputer, termasuk kredensial akses. Akses ini kemudian dapat digunakan untuk melakukan pencurian data tambahan atau melancarkan jenis serangan siber lainnya. Para pengembang Axios belum memberikan komentar terkait insiden ini.

Sebagai perangkat lunak sumber terbuka, kode Axios dapat dilisensikan dan dimodifikasi secara bebas oleh pengguna, berbeda dengan produk komersial berpemilik. Para peneliti siber menggambarkan pelanggaran ini sebagai serangan rantai pasokan. Serangan jenis ini berpotensi memungkinkan peretasan terhadap entitas-entitas hilir yang menggunakan perangkat lunak tersebut.

"Anda tidak perlu mengklik apa pun atau membuat kesalahan. Perangkat lunak yang sudah Anda percayai melakukannya untuk Anda," kata Hegel. Google mengaitkan insiden peretasan ini dengan kelompok yang mereka lacak sebagai UNC1069.

Dalam laporan Februari, Google menyatakan bahwa kelompok UNC1069 telah aktif setidaknya sejak tahun 2018 dan dikenal menargetkan industri mata uang kripto serta keuangan. John Hultquist, kepala analis untuk kelompok intelijen ancaman Google, menegaskan dalam sebuah pernyataan, "Peretas Korea Utara memiliki pengalaman mendalam dengan serangan rantai pasokan, yang terutama mereka gunakan untuk mencuri mata uang kripto."

Pemerintah AS menyebut bahwa Korea Utara menggunakan mata uang kripto hasil curian untuk membiayai program senjata dan berbagai program lainnya, sekaligus untuk menghindari sanksi internasional. Hingga berita ini diturunkan, perwakilan Korea Utara di PBB belum memberikan tanggapan terkait permintaan komentar yang dilayangkan, demikian dilansir Reuters, Rabu (1/4/2026).

Recommended