Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpaksa parkir di zona merah setelah terkoreksi 0,53% ke posisi 8.103,8 pada penutupan perdagangan kemarin. Tekanan jual yang melanda sektor teknologi di Wall Street ternyata merembet kuat ke pasar Asia, termasuk Jakarta, yang membuat nyali investor sedikit menciut di akhir pekan ini.
Memasuki sesi perdagangan Trading 6 Februari 2026, kondisi pasar memang sedang tidak baik-baik saja. Bursa Korea Selatan bahkan memimpin kejatuhan di kawasan Asia-Pasifik, memberikan sinyal bahwa sentimen global sedang sangat sensitif terhadap aksi lepas saham (sell-off). Namun, di tengah kepanikan, selalu ada peluang bagi mereka yang jeli melihat titik balik harga atau rebound.
Para analis dari sekuritas papan atas melihat bahwa pelemahan ini justru membuka ruang untuk strategi Buy on Weakness (BoW). Artinya, ketika harga jatuh ke area penyangga (support), itulah saatnya mengoleksi saham-saham berfundamental kuat dengan harga “diskon” sebelum indeks kembali memantul ke atas.
Membedah Strategi Blue Chip: Fokus Mandiri Sekuritas
Mandiri Sekuritas memberikan perhatian khusus pada tiga saham berkapitalisasi besar yang dianggap punya daya tahan tinggi terhadap guncangan pasar. Fokus utamanya adalah menjaga disiplin pada stop loss agar modal tidak tergerus terlalu dalam jika volatilitas meningkat.
1. Unilever Indonesia (UNVR) Sektor konsumer sering kali menjadi tempat berlindung saat indeks goyang. UNVR menunjukkan pola yang menarik untuk dipantau.
-
Rekomendasi: Buy
-
Harga Penutupan Terakhir: 2.210
-
Target Harga: 2.250
-
Stop Loss/Reversal: 2.190
2. Bank Negara Indonesia (BBNI) Saham perbankan tetap menjadi tulang punggung bursa. Koreksi pada BBNI dianggap sebagai kesempatan masuk yang cukup aman bagi trader harian.
-
Rekomendasi: Buy
-
Harga Penutupan Terakhir: 4.570
-
Target Harga: 4.650
-
Stop Loss: 4.540
3. Astra International (ASII) Sebagai raksasa konglomerasi, ASII memiliki likuiditas yang melimpah, menjadikannya pilihan favorit untuk memanfaatkan momentum perbaikan indeks.
-
Rekomendasi: Buy
-
Harga Penutupan Terakhir: 6.950
-
Target Harga: 7.100
-
Stop Loss: 6.875
Berburu Saham Telekomunikasi dan Unggas Bersama BNI Sekuritas
Berbeda dengan pendekatan sebelumnya, BNI Sekuritas lebih condong pada strategi Buy on Weakness di sektor telekomunikasi dan poultry (unggas). Sektor ini cenderung memiliki pergerakan harga yang lebih dinamis namun tetap terukur.
Berikut adalah beberapa area beli yang disarankan untuk menjaga rasio risiko dan keuntungan:
-
TLKM (Telkom Indonesia): Disarankan masuk pada area beli 3.200-3.240. Jika harga merosot di bawah 3.150, segera lakukan cut loss. Target harga terdekat berada di 3.320-3.400.
-
EXCL (XL Axiata): Pantau area beli 2.820-2.900. Target penguatan diharapkan mencapai level 3.060-3.100.
-
ISAT (Indosat): Untuk saham ini, analis menyarankan Speculative Buy di area 2.090-2.110 dengan target 2.160-2.200.
-
Sektor Unggas (JPFA & CPIN): JPFA menarik di area 2.460-2.530 dengan target 2.720. Sementara CPIN bisa dicermati di level 4.450-4.500 untuk mengejar target 4.620.
“Strategi Buy on Weakness sangat relevan mengingat tekanan jual global masih membayangi. Disiplin pada level cut loss adalah kunci utama trading saat ini,” tulis analis BNI Sekuritas dalam risetnya.
Analisis Wave MNC Sekuritas: Peluang di Saham Energi dan Infrastruktur
MNC Sekuritas menggunakan pendekatan teknikal yang lebih dalam dengan melihat pergerakan gelombang harga (wave). Ini penting bagi trader yang ingin tahu apakah sebuah saham sedang berada di awal kenaikan atau justru di ujung penurunan.
BREN (Barito Renewables Energy) Meskipun masih didominasi tekanan jual, BREN berhasil menguat tipis 0,61% ke posisi 8.250.
“Kami memperkirakan, posisi pergerakan BREN sedang berada pada bagian awal dari wave [c] dari wave B,” ungkap tim analis MNC Sekuritas.
-
Area Beli: 7.975-8.200
-
Target Harga: 8.600 – 9.125
-
Stop Loss: Di bawah 7.800
CMRY (Cisarua Mountain Dairy) Saham ini menunjukkan tanda-tanda akumulasi dengan kenaikan volume pembelian.
-
Rekomendasi: Spec Buy (5.450-5.525)
-
Target Harga: 5.625 – 5.725
-
Stop Loss: Di bawah 5.375
INDY (Indika Energy) Meski terkoreksi 0,30%, INDY masih bertahan di atas rata-rata harga 20 hari (MA20). Ini menandakan tren naik jangka pendek masih terjaga.
-
Area Beli: 3.170-3.290
-
Target Harga: 3.570 – 3.820
-
Stop Loss: Di bawah 3.070
Menghadapi Volatilitas Akhir Pekan
Pasar saham memang tidak pernah bergerak searah. Penurunan IHSG ke level 8.103 merupakan alarm bagi para trader untuk lebih waspada terhadap sentimen eksternal. Perlu diingat bahwa pasar teknologi global sedang mengalami penyesuaian harga yang cukup masif, dan hal ini biasanya berdampak pada aliran dana asing keluar dari pasar berkembang seperti Indonesia.
Kunci sukses trading di hari Jumat ini adalah tidak serakah. Pastikan untuk selalu memasang automatic order untuk proteksi keuntungan maupun pembatasan kerugian. Jangan terpaku pada satu saham jika pergerakannya sudah menembus level support terkuatnya.
Tetap pantau rilis data ekonomi domestik dan pergerakan bursa regional di pembukaan sesi kedua nanti. Momentum rebound biasanya terjadi saat pasar mulai jenuh jual. Semoga strategi di atas membantu dalam navigasi portofolio hari ini.
Apakah Anda sudah menyiapkan dana tunai untuk menyerok saham di harga bawah hari ini? Mari kita pantau bersama bagaimana reaksi pasar saat pembukaan sesi pertama nanti.
Sumber : Investor.id