Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri menjadi potensi yang perlu diantisipasi seiring dengan berlanjutnya ketegangan di Timur Tengah. Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, terkait dampak langsung dari konflik tersebut terhadap rantai pasok minyak global.
Setelah Iran menutup Selat Hormuz, harga minyak dunia melonjak 10% dan telah mencapai US$ 80 per barel. Kondisi ini, menurut Airlangga, serupa dengan situasi saat perang Ukraina pecah yang menyebabkan kenaikan harga BBM.
Airlangga menyampaikan, "Otomatis akan naik, sama seperti saat perang Ukraina kan naik," di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026).
Di tengah konflik yang meningkat, Amerika Serikat (AS) dan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) mengambil langkah untuk meningkatkan kapasitas produksi mereka. Reuters melaporkan pada Minggu (1/3/2026) bahwa OPEC+ sedang mempertimbangkan peningkatan produksi sebesar 411.000 barel per hari atau lebih, melebihi perkiraan awal sebesar 137.000 barel per hari.
Airlangga menambahkan, "Tetapi kan kali ini supply dari Amerika juga akan meningkat dan OPEC juga meningkatkan kapasitasnya."
Pemerintah akan terus memantau perkembangan konflik sebelum mengambil tindakan lebih lanjut. Airlangga menegaskan, "Nanti kita monitor dulu."
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran terjadi setelah serangan gabungan AS dan Israel. Akibatnya, sejumlah pemilik kapal tanker, perusahaan minyak besar, dan perusahaan perdagangan telah menangguhkan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam cair (LNG).
Seorang eksekutif senior di sebuah perusahaan perdagangan besar yang dikutip dari Independent, Minggu (1/3/2026), menyatakan, "Kapal-kapal kami akan tetap di tempat selama beberapa hari."