Kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah mulai memengaruhi perilaku konsumen otomotif di Asia, di mana permintaan terhadap kendaraan listrik (EV) mengalami peningkatan signifikan di beberapa negara.
Di Filipina, dealer BYD merasakan dampak langsungnya. Menurut Matthew Dominique Poh, seorang tenaga penjual, pesanan dalam dua minggu terakhir setara dengan penjualan satu bulan penuh. Poh menyebutkan bahwa kenaikan harga minyak menjadi alasan utama pelanggan beralih ke EV.
Situasi serupa terjadi di Vietnam. Dealer VinFast mengalami lonjakan kunjungan hingga empat kali lipat sejak konflik Iran dimulai. Penjualan dalam tiga minggu terakhir mencapai 250 unit, lebih dari 80 unit per minggu, dua kali lipat dari rata-rata tahun 2025.
Lai The Manh Linh, seorang konsumen di Vietnam, memutuskan untuk mengganti mobil bensin Toyota Vios dengan mobil listrik VF 5 untuk kebutuhan sehari-hari sejauh 60–70 kilometer. "Beralih ke EV akan membantu kami menghemat biaya secara signifikan," ujarnya.
Di Thailand, dealer MG (di bawah SAIC Motor) juga mencatat kenaikan penjualan hingga 20% sejak konflik dimulai.
Kondisi ini terjadi seiring terganggunya distribusi energi akibat konflik, terutama dari kawasan strategis seperti Selat Hormuz. Asia Pasifik menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak, karena sekitar 80% pasokan minyak melewati jalur tersebut.
Kepala Ekonom Asian Development Bank, Albert Park, menyatakan bahwa secara historis, kenaikan harga minyak selalu mendorong adopsi kendaraan listrik. "Kenaikan harga minyak selalu membantu transisi ke kendaraan listrik. Ini menciptakan insentif ekonomi untuk mempercepat peralihan hijau," ujarnya.