Harga emas di pasar global kembali menunjukkan penguatan signifikan, dipicu oleh optimisme meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Selain itu, pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) turut menambah daya tarik logam mulia ini sebagai aset aman.
Kondisi ini menyebabkan harga emas sempat bergerak fluktuatif, jatuh ke level US$ 4.482, sebelum akhirnya bangkit dan menembus kisaran US$ 4.648. Di pasar domestik, harga emas Antam turut mengalami kenaikan tajam hingga Rp 75.000, mencapai level Rp 2.902.000 per gram, seperti dilansir dari Detik Finance.
Penguatan harga emas ini merefleksikan respons pasar terhadap indikasi meredanya konfrontasi antara Iran dan AS. Sinyal bahwa kedua belah pihak bersedia mencari solusi diplomatik telah meredakan kekhawatiran investor, mendorong mereka kembali ke aset berisiko dan mengurangi permintaan dolar.
Menurut analisis Dupoin Futures, pergerakan emas (XAU/USD) saat ini mengindikasikan tren bullish dalam jangka pendek. Dukungan teknikal terlihat dari pola candlestick dan indikator moving average pada timeframe satu jam (H1), yang menunjukkan dominasi tekanan beli.
Andy Nugraha, seorang analis dari Dupoin Futures, pada risetnya Rabu (1/4/2026), menyatakan, "Selama tekanan bullish berlanjut, harga emas berpotensi menguji level resistance di 4.862 dolar AS. Namun, jika terjadi koreksi, maka area support terdekat berada di kisaran 4.539 dolar AS."
Secara fundamental, penguatan harga emas juga didukung oleh penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield obligasi tenor 10 tahun tercatat turun menjadi 4,31%. Penurunan ini berdampak pada pelemahan Indeks Dolar AS (DXY) ke posisi 99,91, yang secara langsung meningkatkan daya tarik emas bagi investor internasional.
Selain itu, pasar juga mengamati data ekonomi AS yang menunjukkan tanda-tanda perlambatan di sektor tenaga kerja. Penurunan jumlah lowongan pekerjaan semakin memperkuat sinyal pelambatan ekonomi yang dapat memicu Federal Reserve untuk mempertimbangkan kebijakan moneter yang lebih longgar di masa mendatang.
Kendati demikian, isu inflasi masih menjadi perhatian utama. Kenaikan harga energi terus menjaga ekspektasi inflasi tetap tinggi. Situasi ini diperparah oleh pernyataan pejabat Federal Reserve yang menekankan pentingnya menjaga kredibilitas kebijakan moneter. Faktor-faktor ini secara kolektif memengaruhi ekspektasi pasar mengenai arah suku bunga di masa depan.
Dengan adanya kombinasi sentimen geopolitik yang membaik, pelemahan dolar AS, serta faktor teknikal yang mendukung, harga emas diproyeksikan akan bergerak volatil dalam jangka pendek, namun dengan kecenderungan menguat. Investor disarankan untuk terus mencermati perkembangan geopolitik global dan arah kebijakan moneter sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi.