Harga minyak mentah dunia jenis Brent merangkak naik mendekati level USD107 per barel pada Senin pagi, 26 April 2026, setelah menutup pekan sebelumnya di kisaran USD105 per barel. Kenaikan signifikan ini dipicu oleh mandeknya proses diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran yang meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Sebagaimana dilansir dari Medcom, pasar merespons negatif keputusan Washington yang membatalkan pengiriman delegasi ke Islamabad. Langkah ini mendorong investor menambahkan premi risiko yang lebih besar terkait potensi gangguan distribusi di Selat Hormuz sebagai salah satu jalur logistik energi paling vital di dunia.
Kenaikan harga komoditas energi ini memicu kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global yang semakin kuat. PT Mirae Asset Sekuritas mencatat bahwa kondisi ini menjadi tantangan serius bagi negara pengimpor energi, termasuk dampak langsung terhadap stabilitas ekonomi domestik Indonesia.
"Brent yang bertahan tinggi berpotensi menjadi overhang bagi sentimen domestik, baik melalui risiko kenaikan biaya impor maupun tekanan terhadap ekspektasi inflasi," ujar Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas.
Di sisi lain, pasar modal Indonesia mengalami tekanan de-risking yang cukup tajam di tengah penguatan bursa global seperti S&P 500 dan Nasdaq. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat terkoreksi 3,4 persen pada Jumat lalu menuju level 7.129 akibat aksi jual investor asing.
Tekanan jual oleh investor asing mencapai nilai total sekitar Rp3 triliun dengan konsentrasi pada saham perbankan kapitalisasi besar. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat penjualan bersih paling agresif dengan angka mencapai Rp2,1 triliun.
Kesenjangan antara pasar global dan domestik menunjukkan sensitivitas tinggi investor terhadap risiko spesifik di Indonesia, khususnya terkait nilai tukar rupiah dan inflasi. Volatilitas pasar diperkirakan tetap berada pada level tinggi selama harga minyak dunia belum menunjukkan tanda-tanda stabilisasi atau penurunan.